Seorang anak yang melihat ayahnya selalu berzikir dan bertahlil, bertahmid, dan bertasbih, maka dia pun akan mudah untuk mengucapkan: Laa ilaaha illalloh, Subhanallah, dan Allahu akbar.
Begitu pula seorang anak yang dibiasakan untuk mengirim sedekah pada malam hari karena diutus oleh orangtuanya kepada fakir miskin secara rahasia, jelas akan berbeda dengan seorang anak yang disuruh oleh orangtuanya pada malam hari untuk membeli narkoba atau rokok.
Seorang anak yang selalu melihat ayahnya berpuasa senin dan kamis, ikut serta dalam shalat berjama’ah di masjid jelas akan berbeda dengan seorang ayah yang melihat ayahnya berada di tempat perjudian atau bioskop serta tempat-tempat hiburan yang lainnya.
Anda akan melihat seorang anak yang selalu mendengarkan suara adzan mengulang-ngulang lantunan adzan, dan Anda akan melihat seorang anak yang selalu mendengarkan lagu yang dilantunkan orangtuanya, melantunkannya pula.
Sungguh indah andaikata seorang ayah adalah pribadi yang slelu berbuat baik kepada kedua orangtuanya dengan berdo’a untuk mereka dan memohon ampunan kepada Allah bagi keduanya, selalu menanyakan keadaannya dan tenang berada bersama keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya dan memperbanyak berdo’a dengan ungkapan:
Robbigh firli waliwali dayya
“Ya Allah ampunilah aku dan kedua orangtuaku”
Dia akan selalu mengucapkan:
Robbbirhamhuma kama robbayani shoghiro
“Ya Allah, kasihanilah mereka berdua sebagaiaman mereka telah mendidikku diwaktu kecil”
Dia pun berziarah ke makam kedua orangtuanya, bersedekah untuk keduanya, menghubungkan kekerabatan dengan orang-orang yamg dekat dengan keduanya, juga memberi kepada orang-orang yang selalu diberi oleh keduanya.
Jika seorang anak melihat perangai orangtuanya yang sedemikain, maka dengan izin Allah anak itu akan meniru apa yang dilakukan orangtuanya. Dia akan selalu memohon kepada Allah ampunan bagi kedua orangtuanya, dan sealu melakukn sesuatu yang biasa dilakukan oleh kedua orangtunya kepada kakek dan neneknya.
Seorang anak yang dididik shalat oleh orangtuanya jelas akan berbeda dengan seorang anak yang biasa diajarkan menonton film, musik atau sepak bola.
Sesungguhnya jika seoarang anak melihat kedua orangtuanya melakukan shalat malam dengan menangis karena takut kepada Allah juga dengan membaca alqur’an, niscaya dia akan berfikir kenapa ayahnya menangis? Kenapa dia melakuakn shalat? Dan kenapa dia meninggalkan tempat tidur yang empuk lagi hangat? Kenapa dia memilih air wudhu yang dingin ?!
Kenapa dia meninggalkan tempat tidurnya dengan memilih memohon kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap?
Semua pertanyaan ini akan selalu tertanam di dalam pikiran seorang anak dan selalu memikirkannya yang pada akhirnya si anak dengan izin Allah akan meniru apa saja yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain, dia telah dihiasi dengan rasa malu dan sikap menjaga kehormatan, kesucian dirinya telah menjadikan dirinya mulia. Jika ibunya demikian niscaya anaknya juga akan belajar menanamkan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian dari ibunya. Sedangkan anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhias diri di depan setiap laki-laki, bersalaman, dan bercampur baur, tertawa dan tersenyum dengan laki-laki lain bahkan berdansa dengan mereka, maka anaknya pun akan belajar yang demikian itu darinya.
Maka bertakwalah kalian wahai para ibu dan ayah! Jagalah anak-anak kalian, dan jadilah kalian sebagai suri tauladan bagi mereka dnegna perangai yang baik dan tabiat yang mulia. Sebelum itu semua, jadilah kalian sebagai suri tauladan dengan memegang teguh agama Allah juga Nabi-Nya.
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/anak-anak-mengikuti-perbuatan-yang-dilakukan-orangtua.html
Kamis, 03 November 2011
Yuk Nak, Kita Puasa!
Alhamdulillah… akhirnya bulan Ramadhan pun tiba. Tidak sabar rasanya menanti bulan penuh keberkahan ini. Berbagai persiapan mulai dilakukan agar ibadah di bulan ini lebih khusyu’ daripada bulan Ramadhan tahun lalu. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah: 183)
Namun ada yang berbeda di tahun ini. Apa itu? Ternyata tahun ini si kecil mulai belajar berpuasa! Subhanallah. Selain senang, ternyata bingung juga bagaimana melatih si kecil berpuasa. Ada beberapa hal yang mungkin akan membantu kita dalam melatih si kecil berpuasa.
Usia berapa anak dapat dilatih berpuasa?
Anak dapat dilatih berpuasa sejak dini karena kebiasaan akan menumbuhkan kecintaan dalam diri anak. Pada umumnya anak siap dilatih berpuasa pada usia 6-7 tahun. Tentu saja orang tua harus memperhatikan kondisi fisik anak serta kebutuhan energi yang diperlukannya untuk beraktifitas sepanjang hari. Kita perlu mengingat bahwa usia anak-anak adalah masa yang penuh dengan aktifitas motorik yang sangat menguras energi. Jangan sampai kita terlalu memaksa anak untuk berpuasa padahal hal tersebut dapat membahayakan kesehatan fisiknya. Semakin jarang anak merasa lapar, maka secara fisik anak sudah siap dilatih berpuasa penuh.
Bagaimana memberikan pengertian kepada si kecil mengapa dia harus berpuasa?
Memberikan pengertian kepada si kecil tentang puasa sangat dianjurkan agar anak terbiasa mengetahui alasan atau sebab mengapa mereka harus melakukan sesuatu. Dengan mengetahui alasan tersebut, diharapkan akan tumbuh dalam diri anak kecintaan terhadap ibadah. Berikan pengertian kepada anak dengan kata-kata yang jelas intonasinya, lambat, dan menggunakan bahasa yang sederhana disesuaikan dengan pemahaman dan umur anak. Berikan penjelasan tentang apa itu puasa, kapan waktu untuk melaksanakan puasa, apa yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berpuasa.
Bagaimana cara melatih anak berpuasa?
Melatih anak berpuasa bukan sesuatu yang mudah namun juga tidak perlu dianggap beban yang berat. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengajak mereka berpuasa bersama. Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melatih anak berpuasa. Pada bulan Ramadhan, anak tidak akan merasa terlalu terbebani karena banyak orang yang ikut berpuasa bersamanya.
Mintalah anak berpuasa semampu mereka. Namun hendaknya kita menjelaskan kepada mereka bahwa puasa mereka belum dikatakan berpuasa. Teruslah memotivasi mereka agar meningkatkan puasanya.
Bagaimana cara memotivasi anak agar semangat berpuasa?
Puasa bagi anak memang sesuatu yang berat. Namun ada beberapa cara untuk mendongkrak semangat mereka agar mau berpuasa. Salah satu di antaranya adalah hadiah. Buatlah perjanjian dengan anak. Misalnya, jika anak mampu berpuasa sebulan penuh, mereka akan mendapatkan hadiah tertentu. Jika ternyata anak tidak mampu berpuasa sebulan penuh, maka berikan kepada mereka hadiah penghibur yang nilainya di bawah hadiah yang akan mereka dapatkan jika berpuasa satu bulan penuh. Hal tersebut akan membuat anak senang dan terpacu untuk mencoba berpuasa penuh di bulan berikutnya.
Kita juga dapat memberikan hadiah motivasi setiap hari selama Ramadhan. Tidak perlu hadiah yang mahal. Buatlah bentuk-bentuk lucu seperti mobil atau yang lain dari kertas warna-warni atau stiker mobil, lalu berikan kepada mereka setiap kali selesai menjalankan puasa di hari itu. Dengan demikian anak akan merasa senang karena usahanya dihargai. Jangan lupa untuk selalu memuji mereka jika berhasil berpuasa penuh di hari itu. Jika mereka tidak sanggup, teruslah menyemangati mereka agar menambah waktu puasa mereka di esok hari.
Namun tentu saja, hal ini jangan dijadikan kebiasaan. Karena dikhawatirkan anak hanya mau berpuasa jika diberi hadiah saja. Orang tua tetap harus memberikan pengertian bahwa puasa adalah salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Dan puasa di bulan Ramadhan adalah puasa yang wajib kita lakukan. Seiring bertambahnya umur anak, arahkan anak berpuasa demi mendapat pahala. Tanamkan pada anak pentingnya meraih ridha Allah. Jikalau terkadang orang tua masih memberikan hadiah ketika anak puasa, katakanlah kepada anak bahwa itu adalah pemberian dari orang tua, sedangkan anak harus tetap dimotivasi untuk berpuasa demi menjalankan ibadahnya kepada Allah.
Bagaimana jika anak merengek untuk berbuka sebelum waktunya?
Orang tua harus pengertian, jika anak memang benar-benar terlihat lemas dan tidak sehat, segera hentikan puasanya. Namun jika anak masih dalam kondisi wajar, bujuk mereka dengan hadiah atau menu buka puasa yang mereka sukai. Alihkan perhatian mereka dengan memberikan mainan yang dapat menyibukkan pikiran mereka atau anak diajak berjalan-jalan keluar rumah. Selain itu, sangat penting bagi ibu untuk menyiapkan menu sahur dan berbuka yang dapat menggugah selera anak. Menu yang menarik tidak harus mahal, karena menu yang sederhana pun dapat menarik jika kita mampu mengkreasikannya.
Sedangkan jika sang anak merengek karena alasan yang tidak logis, karena manja misalnya, sedangkan umur dan kondisi anak sudah dinilai kuat untuk berpuasa penuh, maka orang tua harus berusaha tegas. Tetapi, setelah anak berbuka puasa, jangan lupa untuk memberikan mereka penghargaan. Meski hanya sekedar pujian atau sebuah pelukan kasih sayang.
Walhamdulillah, semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk mendidik buah hati tercinta, salah satunya dengan mendekatkannya kepada ibadah-ibadah yang wajib dijalankan ketika mereka telah baligh. Jika menemukan kesulitan dalam menghadapi anak, janganlah berputus asa, sesungguhnya Allah dekat dengan hamba-Nya yang bertaqwa. Janganlah kita lupa, bahwa keteladanan kita lebih besar pengaruhnya kepada anak daripada seribu ucapan yang keluar dari lisan kita. Wallahul musta’an.
http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/yuk-nak-kita-puasa.html
Namun ada yang berbeda di tahun ini. Apa itu? Ternyata tahun ini si kecil mulai belajar berpuasa! Subhanallah. Selain senang, ternyata bingung juga bagaimana melatih si kecil berpuasa. Ada beberapa hal yang mungkin akan membantu kita dalam melatih si kecil berpuasa.
Usia berapa anak dapat dilatih berpuasa?
Anak dapat dilatih berpuasa sejak dini karena kebiasaan akan menumbuhkan kecintaan dalam diri anak. Pada umumnya anak siap dilatih berpuasa pada usia 6-7 tahun. Tentu saja orang tua harus memperhatikan kondisi fisik anak serta kebutuhan energi yang diperlukannya untuk beraktifitas sepanjang hari. Kita perlu mengingat bahwa usia anak-anak adalah masa yang penuh dengan aktifitas motorik yang sangat menguras energi. Jangan sampai kita terlalu memaksa anak untuk berpuasa padahal hal tersebut dapat membahayakan kesehatan fisiknya. Semakin jarang anak merasa lapar, maka secara fisik anak sudah siap dilatih berpuasa penuh.
Bagaimana memberikan pengertian kepada si kecil mengapa dia harus berpuasa?
Memberikan pengertian kepada si kecil tentang puasa sangat dianjurkan agar anak terbiasa mengetahui alasan atau sebab mengapa mereka harus melakukan sesuatu. Dengan mengetahui alasan tersebut, diharapkan akan tumbuh dalam diri anak kecintaan terhadap ibadah. Berikan pengertian kepada anak dengan kata-kata yang jelas intonasinya, lambat, dan menggunakan bahasa yang sederhana disesuaikan dengan pemahaman dan umur anak. Berikan penjelasan tentang apa itu puasa, kapan waktu untuk melaksanakan puasa, apa yang harus, boleh dan tidak boleh dilakukan ketika berpuasa.
Bagaimana cara melatih anak berpuasa?
Melatih anak berpuasa bukan sesuatu yang mudah namun juga tidak perlu dianggap beban yang berat. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengajak mereka berpuasa bersama. Bulan Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk melatih anak berpuasa. Pada bulan Ramadhan, anak tidak akan merasa terlalu terbebani karena banyak orang yang ikut berpuasa bersamanya.
Mintalah anak berpuasa semampu mereka. Namun hendaknya kita menjelaskan kepada mereka bahwa puasa mereka belum dikatakan berpuasa. Teruslah memotivasi mereka agar meningkatkan puasanya.
Bagaimana cara memotivasi anak agar semangat berpuasa?
Puasa bagi anak memang sesuatu yang berat. Namun ada beberapa cara untuk mendongkrak semangat mereka agar mau berpuasa. Salah satu di antaranya adalah hadiah. Buatlah perjanjian dengan anak. Misalnya, jika anak mampu berpuasa sebulan penuh, mereka akan mendapatkan hadiah tertentu. Jika ternyata anak tidak mampu berpuasa sebulan penuh, maka berikan kepada mereka hadiah penghibur yang nilainya di bawah hadiah yang akan mereka dapatkan jika berpuasa satu bulan penuh. Hal tersebut akan membuat anak senang dan terpacu untuk mencoba berpuasa penuh di bulan berikutnya.
Kita juga dapat memberikan hadiah motivasi setiap hari selama Ramadhan. Tidak perlu hadiah yang mahal. Buatlah bentuk-bentuk lucu seperti mobil atau yang lain dari kertas warna-warni atau stiker mobil, lalu berikan kepada mereka setiap kali selesai menjalankan puasa di hari itu. Dengan demikian anak akan merasa senang karena usahanya dihargai. Jangan lupa untuk selalu memuji mereka jika berhasil berpuasa penuh di hari itu. Jika mereka tidak sanggup, teruslah menyemangati mereka agar menambah waktu puasa mereka di esok hari.
Namun tentu saja, hal ini jangan dijadikan kebiasaan. Karena dikhawatirkan anak hanya mau berpuasa jika diberi hadiah saja. Orang tua tetap harus memberikan pengertian bahwa puasa adalah salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Dan puasa di bulan Ramadhan adalah puasa yang wajib kita lakukan. Seiring bertambahnya umur anak, arahkan anak berpuasa demi mendapat pahala. Tanamkan pada anak pentingnya meraih ridha Allah. Jikalau terkadang orang tua masih memberikan hadiah ketika anak puasa, katakanlah kepada anak bahwa itu adalah pemberian dari orang tua, sedangkan anak harus tetap dimotivasi untuk berpuasa demi menjalankan ibadahnya kepada Allah.
Bagaimana jika anak merengek untuk berbuka sebelum waktunya?
Orang tua harus pengertian, jika anak memang benar-benar terlihat lemas dan tidak sehat, segera hentikan puasanya. Namun jika anak masih dalam kondisi wajar, bujuk mereka dengan hadiah atau menu buka puasa yang mereka sukai. Alihkan perhatian mereka dengan memberikan mainan yang dapat menyibukkan pikiran mereka atau anak diajak berjalan-jalan keluar rumah. Selain itu, sangat penting bagi ibu untuk menyiapkan menu sahur dan berbuka yang dapat menggugah selera anak. Menu yang menarik tidak harus mahal, karena menu yang sederhana pun dapat menarik jika kita mampu mengkreasikannya.
Sedangkan jika sang anak merengek karena alasan yang tidak logis, karena manja misalnya, sedangkan umur dan kondisi anak sudah dinilai kuat untuk berpuasa penuh, maka orang tua harus berusaha tegas. Tetapi, setelah anak berbuka puasa, jangan lupa untuk memberikan mereka penghargaan. Meski hanya sekedar pujian atau sebuah pelukan kasih sayang.
Walhamdulillah, semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk mendidik buah hati tercinta, salah satunya dengan mendekatkannya kepada ibadah-ibadah yang wajib dijalankan ketika mereka telah baligh. Jika menemukan kesulitan dalam menghadapi anak, janganlah berputus asa, sesungguhnya Allah dekat dengan hamba-Nya yang bertaqwa. Janganlah kita lupa, bahwa keteladanan kita lebih besar pengaruhnya kepada anak daripada seribu ucapan yang keluar dari lisan kita. Wallahul musta’an.
http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/yuk-nak-kita-puasa.html
Wahai Anakku, Cintailah Al-Qur’an!
Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”
Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
2. Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
* Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
* Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
* Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
6. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
* Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
* Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
* Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
* Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
* Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
* Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
* Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
* Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan.
Itulah beberapa point cara untuk menumbuhkan rasa cinta anak kepada Al-Qur’an. Semoga kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak, sehingga kita akan mendapat hasil sesuai yang kita harapkan.
Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh
Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Sebelum kita memberi tugas kepada anak-anak kita untuk menghafal Al-Qur’an, maka terlebih dahulu kita harus menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Sebab, menghafal Al-Qur’an tanpa disertai rasa cinta tidak akan memberi faedah dan manfaat. Bahkan, mungkin jika kita memaksa anak untuk menghafal Al-Qur’an tanpa menanamkan rasa cinta terlebih dahulu, justru akan memberi dampak negatif bagi anak. Sedangkan mencintai Al-Qur’an disertai menghafal akan dapat menumbuhkan perilaku, akhlak, dan sifat mulia.
Menanamkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an pertama kali harus dilakukan di dalam keluarga, yaitu dengan metode keteladanan. Karena itu, jika kita menginginkan anak mencintai Al-Qur’an, maka jadikanlah keluarga kita sebagai suri teladan yang baik dengan cara berinteraksi secara baik dengan Al-Qur’an. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memuliakan kesucian Al-Qur’an, misalnya memilih tempat paling mulia dan paling tinggi untuk meletakkan mushaf Al-Qur’an, tidak menaruh barang apapun di atasnya dan tidak meletakkannya di tempat yang tidak layak, bahkan membawanya dengan penuh kehormatan dan rasa cinta, sehingga hal tersebut akan merasuk ke dalam alam bawah sadarnya bahwa mushaf Al-Qur’an adalah sesuatu yang agung, suci, mulia, dan harus dihormati, dicintai, dan disucikan.
Sering memperdengarkan Al-Qur’an di rumah dengan suara merdu dan syahdu, tidak memperdengarkan dengan suara keras agar tidak mengganggu pendengarannya. Memperlihatkan pada anak kecintaan kita pada Al-Qur’an, misalnya dengan cara rutin membacanya.
Adapun metode-metode yang bisa digunakan anak mencintai Al-Qur’an diantaranya adalah:
1. Bercerita kepada anak dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Qur’an.
Mempersiapkan cerita untuk anak yang bisa menjadikannya mencintai Allah Ta’ala dan Al-Qur’an Al-Karim, akan lebih bagus jika kisah-kisah itu diambil dari Al-Qur’an secara langsung, seperti kisah tentang tentara gajah yang menghancurkan Ka’bah, kisah perjalanan nabi Musa dan nabi Khidir, kisah Qarun, kisah nabi Sulaiman bersama ratu Bilqis dan burung Hud-hud, kisah tentang Ashabul Kahfi, dan lain-lain.
Sebelum kita mulai bercerita kita katakan pada anak, “Mari Sayangku, bersama-sama kita dengarkan salah satu kisah Al-Qur’an.”
Sehingga rasa cinta anak terhadap cerita-cerita itu dengan sendirinya akan terikat dengan rasa cintanya pada Al-Qur’an. Namun, dalam menyuguhkan cerita pada anak harus diperhatikan pemilihan waktu yang tepat, pemilihan bahasa yang cocok, dan kalimat yang terkesan, sehingga ia akan memberi pengaruh yang kuat pada jiwa dan akal anak.
2. Sabar dalam menghadapi anak.
Misalnya ketika anak belum bersedia menghafal pada usia ini, maka kita harus menangguhkannya sampai anak benar-benar siap. Namun kita harus selalu memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepadanya.
3. Menggunakan metode pemberian penghargaan untuk memotivasi anak.
Misalnya jika anak telah menyelesaikan satu surat kita ajak ia untuk jalan-jalan/rekreasi, atau dengan menggunakan lembaran prestasi/piagam penghargaan, sehingga anak akan semakin terdorong untuk mengahafal Al-Qur’an.
4. Menggunakan semboyan untuk mengarahkan anak mencintai Al-Qur’an.
Misalnya :
Saya mencintai Al-Qur’an.
Al-Qur’an Kalamullah.
Allah mencintai anak yang cinta Al-Qur’an.
Saya suka menghafal Al-Qur’an.
Atau sebelum menyuruh anak memulai menghafal Al-Quran, kita katakan kepada mereka, “Al-Qur’an adalah kitab Allah yang mulia, orang yang mau menjaganya, maka Allah akan menjaga orang itu. Orang yang mau berpegang teguh kepadanya, maka akan mendapat pertolongan dari Allah. Kitab ini akan menjadikan hati seseorang baik dan berperilaku mulia.”
5. Menggunakan sarana menghafal yang inovatif.
Hal ini disesuaikan dengan kepribadian dan kecenderungan si anak (cara belajarnya), misalnya :
* Bagi anak yang dapat berkonsentrasi dengan baik melalui pendengarannya, dapat menggunakan sarana berupa kaset, atau program penghafal Al-Qur’an digital, agar anak bisa mempergunakannya kapan saja, serta sering memperdengarkan kepadanya bacaan Al-Qur’an dengan lantunan yang merdu dan indah.
* Bagi anak yang peka terhadap sentuhan, memberikannya Al-Qur’an yang cantik dan terlihat indah saat di bawanya, sehingga ia akan suka membacanya, karena ia ditulis dalam lembaran-lembaran yang indah dan rapi.
* Bagi anak yang dapat dimasuki melalui celah visual, maka bisa mengajarkannya melalui video, komputer, layer proyektor, melalui papan tulis, dan lain-lain yang menarik perhatiannya.
6. Memilih waktu yang tepat untuk menghafal Al-Qur’an.
Hal ini sangat penting, karena kita tidak boleh menganggap anak seperti alat yang dapat dimainkan kapan saja, serta melupakan kebutuhan anak itu sendiri. Karena ketika kita terlalu memaksa anak dan sering menekannya dapat menimbulkan kebencian di hati anak, disebabkan dia menanggung kesulitan yang lebih besar. Oleh karena itu, jika kita ingin menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an di hati anak, maka kita harus memilih waktu yang tepat untuk menghafal dan berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Adapun waktu yang dimaksud bukan saat seperti di bawah ini:
Setelah lama begadang, dan baru tidur sebentar,
Setelah melakukan aktivitas fisik yang cukup berat,
Setelah makan dan kenyang,
Waktu yang direncanakan anak untuk bermain,
Ketika anak dalam kondisi psikologi yang kurang baik,
Ketika terjadi hubungan tidak harmonis anatara orangtua dan anak, supaya anak tidak membenci Al-Qur’an disebabkan perselisihan dengan orangtuanya.
Kemudian hal terakhir yang tidak kalah penting agar anak mencintai Al-Qur’an adalah dengan membuat anak-anak kita mencintai kita, karena ketika kita mencintai Al-Qur’an, maka anak-anak pun akan mencintai Al-Qur’an, karena mereka mengikuti orang yang dicintai. Adapun beberapa cara agar anak-anak kita semakin mencintai kita antara lain:
* Senantiasa bergantung kepada Allah, selalu berdo’a kepada Allah untuk kebaikan anak-anak. Dengan demikian Allah akan memberikan taufikNya dan akan menyatukan hati kita dan anak-anak.
* Bergaul dengan anak-anak sesuai dengan jenjang umurnya, yaitu sesuai dengan kaedah, “Perlakukan manusia menurut kadar akalnya.” Sehingga kita akan dengan mudah menembus hati anak-anak.
* Dalam memberi pengarahan dan nasehat, hendaknya diterapkan metode beragam supaya anak tidak merasa jemu saat diberi pendidikan dan pengajaran.
* Memberikan sangsi kepada anak dengan cara tidak memberikan bonus atau menundanya sampai waktu yang ditentukan adalah lebih baik daripada memberikan sangsi berupa sesuatu yang merendahkan diri anak. Tujuannya tidak lain supaya anak bisa menghormati dirinya sendiri sehingga dengan mudah ia akan menghormati kita.
* Memahami skill dan hobi yang dimiliki anak-anak, supaya kita dapat memasukkan sesuatu pada anak dengan cara yang tepat.
* Berusaha dengan sepenuh hati untuk bersahabat dengan anak-anak, selanjutnya memperlakukan mereka dengan bertolak pada dasar pendidikan, bukan dengan bertolak pada dasar bahwa kita lebih utama dari anak-anak, mengingat kita sudah memberi makan, minum, dan menyediakan tempat tinggal. Hal ini secara otomatis akan membuat mereka taat tanpa pernah membantah.
* Membereskan hal-hal yang dapat menghalangi kebahagiaan dan ketenangan hubungan kita dengan anak-anak.
* Mengungkapkan rasa cinta kepada anak, baik baik dengan lisan maupun perbuatan.
Itulah beberapa point cara untuk menumbuhkan rasa cinta anak kepada Al-Qur’an. Semoga kegiatan menghafal Al-Qur’an menjadi hal yang menyenangkan bagi anak-anak, sehingga kita akan mendapat hasil sesuai yang kita harapkan.
Diringkas dari Agar Anak Mencintai Al-Qur’an, Dr. Sa’ad Riyadh
Mendidik Anak Di Rumah
Pembelajaran anak di rumah berbeda dengan di sekolah. Pembelajaran di sekolah terikat dengan tempat, waktu, jadwal, kurikulum, dan seterusnya. Adapun mendidik anak di rumah berlaku setiap hari, bahkan setiap saat. Mengandaikan pendidikan anak sebagai prosedur khusus yang memerlukan waktu-waktu khusus, akan banyak menyita kesempatan orang tua. Mendidik anak menjadi tak alamiah dan tak menggembirakan. Sebaliknya terkesan sebagai beban, baik bagi anak maupun orangtua. Mendidik anak jadi seperti kursus dengan paket-paket yang dikemas dalam sebuah kurikulum dengan anak sebagi peserta wajib dan orangtua guru resminya. Kita sadar bahwa tidak semua orangtua mempunyai kapasitas dan kesempatan untuk itu. Ditambah lagi banyaknya faktor pendukung yang diperlukan.
Sebenarnya ada banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kita perlu mengetahui dan menerapkan berbagai macam metode sehingga setiap detik kebersamaan kita dengan anak bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga baginya. Dengan terkumpulnya metode-metode pembelajaran tersebut diharapkan proses pendidikan akan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orangtua tidak merasa terbebani. Dengan mengharap pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan kita akan meraih keberhasilan. Diantara metode tersebut antara lain:
1. Metode Keteladanan
Keteladanan yang baik lagi shalih adalah sarana terpenting dalam pendidikan. Ia memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang tua adalah contoh paling tinggi bagi anak. Anak tetap akan mengikuti perilaku dan akhlaknya, baik sengaja atau pun tidak. Bila ia selalu jujur dalam ucapan dan dibuktikan dengan perbuatan niscaya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar dengan sesuatu yang nyata. Ini akan lebih mudah diserap oleh jiwa.
Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar shalat dan menekuninya ketika melihat kedua orangtuanya tekun menunaikannya disetiap waktu, demikian juga ibadah-ibadah lainnya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan tumbuh dengan sifat-sifat terpuji dan baik yang didapatnya dari orangtua atau gurunya.
Sebaliknya ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan akan menjadi racun dalam pendidikan. Sebagai contoh, seorang anak yang melihat ayahnya suka berdusta tidak akan dapat mempelajari kejujuran darinya. Sebagaimana seorang anak perempuan yang melihat ibunya tak mempan dengan nasehat, maka jangan harap ia tumbuh menjadi anak yang mudah diberi nasehat oleh ibunya.
Allah telah mencela para pendidik yang perbuatannya menyelisihi ucapannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaf:2-3)
2. Bimbingan dan Nasehat
Nasehat yang baik termasuk sarana yang menghubungkan jiwa seseorang dengan cepat. Apalagi nasehat yang kita ucapkan tulus dari dasar hati kita yang paling dalam. Niscaya akan memberikan pengaruh yang yang langsung menghujam di hati anak. Agar nasehat membawa perbaikan maka perhatikanlah hal-hal berikut :
- Ulang-ulangilah nasehat, karena tabiat manusia adalah lupa, namun jangan berlebih-lebihan sehingga membuat jiwa menjadi bosan.
- Pilihlah waktu yang tepat, yaitu waktu ketika kondisi kejiwaannya dalam keadaan kondusif.
- Gunakanlah kata-kata yang mudah dan dapat dipahami sesuai dengan usia anak serta daya tangkap dan nalarnya.
3. Kisah dan Cerita
Kisah termasuk sarana pendidikan yang efektif. Sebab ia dapat mempengaruhi perasaan dengan kuat. Apalagi kisah nyata, sangat besar pengaruhnya pada jiwa anak, dapat memperkokoh ingatan anak dan kesadaran berfikirnya. Sebuah pelajaran akan lebih mudah dicerna dan difahami oleh akalnya bila diberi ilustrasi cerita. Yaitu cerita yang disertai penjiwaan. Dengan catatan cerita yang bawakan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah syariat, jauh dari khayalan, dusta, dan kerusakan.
Allah juga menggunakan metode ini dalam mendidik, mengajar, dan mengarahkan. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala menyebutkan tentang kisah para nabi dan rasul.
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud :120)
Kisah dan cerita juga dapat mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Akan menciptakan kehangatan dan keakraban tersendiri, sehingga akan membantu kelancaran komunikasi.
4. Mengambil Pelajaran Dari Berbagai Peristiwa dan Kejadian
Mendidik anak berlangsung setiap hari. Dan peristiwa sehari-hari sebenarnya adalah peristiwa besar, sekalipun tampak sepele. Peristiwa keseharian ini akan memberi pengaruh sikap terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami anak di lain waktu. Pendidik yang cerdas lagi sangat menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya tidak akan membiarkan suatu kejadian melintas begitu saja tanpa mengambil pelajaran darinya untuk ia sampaikan kepada anak-anaknya. Karena hidup memang penuh dengan peristiwa dan kejadian. Manusia senantiasa akan menemui peristiwa-peristiwa ini selama masih hidup di dunia. Dan peristiwa-peristiwa kehidupan termasuk sarana terpenting dalam mendidik, karena memiliki pengaruh yang besar bagi anak. Ambilah setiap kejadian sebagai pengarahan, bimbingan, pengajaran, dan sarana untuk meluruskan kesalahan. Manfaatkan saat-saat yang tepat hingga bisa mengetuk jiwanya dan mempengaruhi hatinya. Sewaktu perasaannya dapat merekam dengan jelas sehingga pelajaran berharga masuk dalam jiwanya.
Demikianlah manhaj Al-Qur’an, bahkan Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut peristiwa yang terjadi agar lebih mengakar dalam hati manusia. Sebagai contoh peristiwa yang menimpa kaum muslimin dalam perang Hunain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (٢٥)
” Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (Qs. At Taubah: 25)
5. Metode Pembiasaan
Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab bila anak terbiasa mengerjakannya secara teratur, maka ia akan menjadi sebuah kebiasaan. Dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah. Tanamkan kepada mereka kebiasaan melakukan sesuatu yang baik dan membawa keberuntungan baginya dalam urusan dunia maupun agama. Baik itu ibadah, adab, tutur kata, sopan santun, rutinitas keseharian, dan lain sebagainya.
6. Memanfaatkan Waktu Luang
Dorong anak untuk mengisi waktu luang dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, sehingga tidak dimasuki oleh keburukan, kerusakan, dan kesesatan. Berikan pengarahan yang benar dalam jalur kebaikan. Luangkan waktu Anda bersama anak, untuk menemani, membimbing, dan beraktivitas bersama mereka. Sehingga anak akan terlepas dari sebab-sebab penyimpangan dan kerusakan, karena terlalu banyaknya waktu kosong tanpa tahu harus diisi dengan apa. Karena Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari)
7. Pemberian Motivasi
Berikanlah motivasi positif pada anak! Baik motivasi yang sifatnya konkrit maupun maknawi. Berikan dorongan dan semangat kepada anak untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Seiring dengan itu teruslah menggali apa yang menjadi bakat dan potensi mereka. Biasakan mereka untuk berusaha dengan keras dan bersaing secara sehat. Ikut sertakan anak dalam perlombaan yang positif.
Motivasi yang terus menerus akan meningkatkan kreativitas anak dalam melakukan kebaikan dan hal yang bermanfaat. Dampingi terus mereka dan berikan dukungan sebaik-baiknya. Motivasi ini bisa berbentuk bahasa kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dengan memberikan dukungan moril maupun materiil. Dengan memfasilitasi anak atau dengan memberikan hadiah ketika anak melakukan kebaikan.
8. Pemberian hukuman
Pendidikan anak dalam Islam dimulai dengan metode pengarahan yang baik serta mengajak anak pada nilai-nilai mulia penuh dengan kesabaran. Namun kadang, kita sudah menmpuh segala langkah nasehat maupun pengarahan untuk meluruskan kesalahan anak dan kenyataannya hal itu tidak mempan. Bahkan mereka semakin parah penyimpangannya sekalipun telah diajak kembali ke jalan yang lurus dengan cara yang baik dan halus. Dalam keadaan seperti ini kita harus mengambil cara yang tegas demi kebaikan anak. Yaitu dengan memberikan hukuman. Namun pemberian hukuman itu harus diimbangi dengan pemberian pujian dan balasan yang baik.
Pendidikan dengan pemberian hukuman ini hendaknya bermula dari ancaman hingga berakhir pada penjatuhan sanksi. Jika ternyata anak tidak menghiraukan, maka sanksi harus benar-benar kita jatuhkan. Dengan demikian akan tertanam pada jiwa anak bahwa ancaman kita itu sungguh-sungguh dan bukan main-main. Demikianlah metode yang Allah ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:
اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)
” Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (An Nisa:34)
Kesimpulannya, metode pemberian sanksi baru kita gunakan apabila seluruh metode mengalami kegagalan. Dan saat menjatuhkan sanksi, perhatikan waktu yang tepat dan bentuk sanksi yang sesuai dengan kadar kesalahan. Bentuk sanksi ini bisa bervariasi dari yang teringan, misalnya mengurangi jatah harian anak, mengurangi jam bermain atau yang semisalnya. Bisa berbentuk sanksi sosial berupa pengacuhan sampai yang terberat, yaitu hukuman fisik.
Kita dapat membuat kesepakatan dengan anak tentang bentuk sanksi dan kapan sanksi dijatuhkan. Sehingga anak lebih memiliki kesadaran dan kesiapan untuk menerimanya.
Demikianlah delapan metode pembelajaran yang kita harapkan dapat membantu kesuksesan kita dalam mendidik anak. Mendidik anak dengan memberi contoh akan menghasilkan karakter yang mulia. Pengajaran dengan tutur kata dan bimbingan yang baik mampu meluruskan berbagai kekurangan dan kesalahan, memberikan wacana yang baik dalam kehidupannya serta membiasakan mereka dengan kebaikan pula. Dengan memanfaatkan waktu senggang, anak mampu menyalurkan potensi tubuh, akal dan perasaan untuk sesuatu yang bermanfaat. Motivasi akan membangkitkan semangat dan persaingan hidup yang sehat serta mengasah kemampuan dan keterampilan. Sementara sanksi hanya berfungsi sebagai sarana kontrol akhir bila semua sarana dan metode di atas tidak bermanfaat.
http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/mendidik-anak-di-rumah.html
Sebenarnya ada banyak peristiwa-peristiwa keseharian yang merupakan pintu masuk seluruh unsur pendidikan yang ingin diberikan. Karenanya kita harus berusaha agar semua tidak terlewatkan begitu saja. Kita perlu mengetahui dan menerapkan berbagai macam metode sehingga setiap detik kebersamaan kita dengan anak bisa menjadi sebuah pembelajaran berharga baginya. Dengan terkumpulnya metode-metode pembelajaran tersebut diharapkan proses pendidikan akan berlangsung setiap waktu, tanpa anak merasa terus digurui dan orangtua tidak merasa terbebani. Dengan mengharap pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, mudah-mudahan kita akan meraih keberhasilan. Diantara metode tersebut antara lain:
1. Metode Keteladanan
Keteladanan yang baik lagi shalih adalah sarana terpenting dalam pendidikan. Ia memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang tua adalah contoh paling tinggi bagi anak. Anak tetap akan mengikuti perilaku dan akhlaknya, baik sengaja atau pun tidak. Bila ia selalu jujur dalam ucapan dan dibuktikan dengan perbuatan niscaya anak akan tumbuh dengan semua prinsip-prinsip pendidikan yang tertancap dalam pikirannya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar dengan sesuatu yang nyata. Ini akan lebih mudah diserap oleh jiwa.
Dengan adanya teladan, seorang anak akan belajar shalat dan menekuninya ketika melihat kedua orangtuanya tekun menunaikannya disetiap waktu, demikian juga ibadah-ibadah lainnya. Dengan adanya teladan, seorang anak akan tumbuh dengan sifat-sifat terpuji dan baik yang didapatnya dari orangtua atau gurunya.
Sebaliknya ketidaksesuaian antara ucapan dan perbuatan akan menjadi racun dalam pendidikan. Sebagai contoh, seorang anak yang melihat ayahnya suka berdusta tidak akan dapat mempelajari kejujuran darinya. Sebagaimana seorang anak perempuan yang melihat ibunya tak mempan dengan nasehat, maka jangan harap ia tumbuh menjadi anak yang mudah diberi nasehat oleh ibunya.
Allah telah mencela para pendidik yang perbuatannya menyelisihi ucapannya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ (٢)كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ (٣)
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.Ash-Shaf:2-3)
2. Bimbingan dan Nasehat
Nasehat yang baik termasuk sarana yang menghubungkan jiwa seseorang dengan cepat. Apalagi nasehat yang kita ucapkan tulus dari dasar hati kita yang paling dalam. Niscaya akan memberikan pengaruh yang yang langsung menghujam di hati anak. Agar nasehat membawa perbaikan maka perhatikanlah hal-hal berikut :
- Ulang-ulangilah nasehat, karena tabiat manusia adalah lupa, namun jangan berlebih-lebihan sehingga membuat jiwa menjadi bosan.
- Pilihlah waktu yang tepat, yaitu waktu ketika kondisi kejiwaannya dalam keadaan kondusif.
- Gunakanlah kata-kata yang mudah dan dapat dipahami sesuai dengan usia anak serta daya tangkap dan nalarnya.
3. Kisah dan Cerita
Kisah termasuk sarana pendidikan yang efektif. Sebab ia dapat mempengaruhi perasaan dengan kuat. Apalagi kisah nyata, sangat besar pengaruhnya pada jiwa anak, dapat memperkokoh ingatan anak dan kesadaran berfikirnya. Sebuah pelajaran akan lebih mudah dicerna dan difahami oleh akalnya bila diberi ilustrasi cerita. Yaitu cerita yang disertai penjiwaan. Dengan catatan cerita yang bawakan tidak menyimpang dari kaidah-kaidah syariat, jauh dari khayalan, dusta, dan kerusakan.
Allah juga menggunakan metode ini dalam mendidik, mengajar, dan mengarahkan. Dalam Al-Qur’an, Allah ta’ala menyebutkan tentang kisah para nabi dan rasul.
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)
“Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud :120)
Kisah dan cerita juga dapat mempererat hubungan antara orangtua dan anak. Akan menciptakan kehangatan dan keakraban tersendiri, sehingga akan membantu kelancaran komunikasi.
4. Mengambil Pelajaran Dari Berbagai Peristiwa dan Kejadian
Mendidik anak berlangsung setiap hari. Dan peristiwa sehari-hari sebenarnya adalah peristiwa besar, sekalipun tampak sepele. Peristiwa keseharian ini akan memberi pengaruh sikap terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami anak di lain waktu. Pendidik yang cerdas lagi sangat menginginkan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya tidak akan membiarkan suatu kejadian melintas begitu saja tanpa mengambil pelajaran darinya untuk ia sampaikan kepada anak-anaknya. Karena hidup memang penuh dengan peristiwa dan kejadian. Manusia senantiasa akan menemui peristiwa-peristiwa ini selama masih hidup di dunia. Dan peristiwa-peristiwa kehidupan termasuk sarana terpenting dalam mendidik, karena memiliki pengaruh yang besar bagi anak. Ambilah setiap kejadian sebagai pengarahan, bimbingan, pengajaran, dan sarana untuk meluruskan kesalahan. Manfaatkan saat-saat yang tepat hingga bisa mengetuk jiwanya dan mempengaruhi hatinya. Sewaktu perasaannya dapat merekam dengan jelas sehingga pelajaran berharga masuk dalam jiwanya.
Demikianlah manhaj Al-Qur’an, bahkan Al-Qur’an diturunkan berangsur-angsur menurut peristiwa yang terjadi agar lebih mengakar dalam hati manusia. Sebagai contoh peristiwa yang menimpa kaum muslimin dalam perang Hunain, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ (٢٥)
” Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (Qs. At Taubah: 25)
5. Metode Pembiasaan
Biasakan anak melakukan kebaikan. Sebab bila anak terbiasa mengerjakannya secara teratur, maka ia akan menjadi sebuah kebiasaan. Dengan pembiasaan maka urusan yang banyak akan menjadi mudah. Tanamkan kepada mereka kebiasaan melakukan sesuatu yang baik dan membawa keberuntungan baginya dalam urusan dunia maupun agama. Baik itu ibadah, adab, tutur kata, sopan santun, rutinitas keseharian, dan lain sebagainya.
6. Memanfaatkan Waktu Luang
Dorong anak untuk mengisi waktu luang dengan kebaikan dan sesuatu yang bermanfaat, sehingga tidak dimasuki oleh keburukan, kerusakan, dan kesesatan. Berikan pengarahan yang benar dalam jalur kebaikan. Luangkan waktu Anda bersama anak, untuk menemani, membimbing, dan beraktivitas bersama mereka. Sehingga anak akan terlepas dari sebab-sebab penyimpangan dan kerusakan, karena terlalu banyaknya waktu kosong tanpa tahu harus diisi dengan apa. Karena Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu dengannya: kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari)
7. Pemberian Motivasi
Berikanlah motivasi positif pada anak! Baik motivasi yang sifatnya konkrit maupun maknawi. Berikan dorongan dan semangat kepada anak untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat. Seiring dengan itu teruslah menggali apa yang menjadi bakat dan potensi mereka. Biasakan mereka untuk berusaha dengan keras dan bersaing secara sehat. Ikut sertakan anak dalam perlombaan yang positif.
Motivasi yang terus menerus akan meningkatkan kreativitas anak dalam melakukan kebaikan dan hal yang bermanfaat. Dampingi terus mereka dan berikan dukungan sebaik-baiknya. Motivasi ini bisa berbentuk bahasa kata-kata ataupun bahasa tubuh. Dengan memberikan dukungan moril maupun materiil. Dengan memfasilitasi anak atau dengan memberikan hadiah ketika anak melakukan kebaikan.
8. Pemberian hukuman
Pendidikan anak dalam Islam dimulai dengan metode pengarahan yang baik serta mengajak anak pada nilai-nilai mulia penuh dengan kesabaran. Namun kadang, kita sudah menmpuh segala langkah nasehat maupun pengarahan untuk meluruskan kesalahan anak dan kenyataannya hal itu tidak mempan. Bahkan mereka semakin parah penyimpangannya sekalipun telah diajak kembali ke jalan yang lurus dengan cara yang baik dan halus. Dalam keadaan seperti ini kita harus mengambil cara yang tegas demi kebaikan anak. Yaitu dengan memberikan hukuman. Namun pemberian hukuman itu harus diimbangi dengan pemberian pujian dan balasan yang baik.
Pendidikan dengan pemberian hukuman ini hendaknya bermula dari ancaman hingga berakhir pada penjatuhan sanksi. Jika ternyata anak tidak menghiraukan, maka sanksi harus benar-benar kita jatuhkan. Dengan demikian akan tertanam pada jiwa anak bahwa ancaman kita itu sungguh-sungguh dan bukan main-main. Demikianlah metode yang Allah ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:
اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا (٣٤)
” Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (An Nisa:34)
Kesimpulannya, metode pemberian sanksi baru kita gunakan apabila seluruh metode mengalami kegagalan. Dan saat menjatuhkan sanksi, perhatikan waktu yang tepat dan bentuk sanksi yang sesuai dengan kadar kesalahan. Bentuk sanksi ini bisa bervariasi dari yang teringan, misalnya mengurangi jatah harian anak, mengurangi jam bermain atau yang semisalnya. Bisa berbentuk sanksi sosial berupa pengacuhan sampai yang terberat, yaitu hukuman fisik.
Kita dapat membuat kesepakatan dengan anak tentang bentuk sanksi dan kapan sanksi dijatuhkan. Sehingga anak lebih memiliki kesadaran dan kesiapan untuk menerimanya.
Demikianlah delapan metode pembelajaran yang kita harapkan dapat membantu kesuksesan kita dalam mendidik anak. Mendidik anak dengan memberi contoh akan menghasilkan karakter yang mulia. Pengajaran dengan tutur kata dan bimbingan yang baik mampu meluruskan berbagai kekurangan dan kesalahan, memberikan wacana yang baik dalam kehidupannya serta membiasakan mereka dengan kebaikan pula. Dengan memanfaatkan waktu senggang, anak mampu menyalurkan potensi tubuh, akal dan perasaan untuk sesuatu yang bermanfaat. Motivasi akan membangkitkan semangat dan persaingan hidup yang sehat serta mengasah kemampuan dan keterampilan. Sementara sanksi hanya berfungsi sebagai sarana kontrol akhir bila semua sarana dan metode di atas tidak bermanfaat.
http://muslimah.or.id/pendidikan-anak/mendidik-anak-di-rumah.html
Pembinaan Aqidah Untuk Buah Hati 2
Aqidah Islamiyah dengan enam pokok keimanan, yaitu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla, para malaikatnya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, beriman kepada hari akhir dan beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun buruk, mempunyai keunikan bahwa kesemuanya itu merupakan perkara yang ghaib.
Seseorang akan menghadapi kebingungan bagaimana ia mesti menyampaikannya kepada anak dan bagaimana pula anak bisa berinteraksi dengan itu semua ? bagaimana cara menjelasakan dan memaparkannya? Di hadapan pertanyaan ini atau pertanyaan sejenis lainnya, kedua orangtua bisa kelabakan dan mencari tahu bagaimana caranya. Akan tetapi melalui penelaahan terhadap cara Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bergaul dengan anak-anak, kita temukan ada lima pilar mendasar di dalam menananmkan aqidah ini.
1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak.
2. Mencintai Allah dan merasa diawasi oleh-Nya, memohon pertolongan kepadaNya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar.
3. Mencintai Nabi dan keluarga beliau.
4. Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak.
5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya.
Pendiktean kalimat tauhid kepada anak
Dari ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Ajarkan kalimat laailaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)
Abdurrazaq meriwayatkan bahwa para sahabat menyukai untuk mengajarkan kepada nak-anak mereka kalimat laa ilaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.
Ibnu Qayyim dalam kitab Ahkam Al-Maulud mengatakan, “Diawal waktu ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaha illa llah muhammadurrasulullah, dan hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”
Oleh karena itu, wasiat Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz radhiyallahu’anhu sebagimanan yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Bukhari dalam Adabul Mufrad, adalah, “Nafkahkanlah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka dan tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.”
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam sejak pertama kali mendapatkan risalah tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Ab Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliu shalallahu’alaihi wassalam mengajaknya untuk beriman, yang akhirnya ajakan itu dipenuhinya. Ali bahkan menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah sehingga tidak diketahui oleh keluarga dan ayahnya sekalipun.
Orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan budak yang dimerdekakan adalah Zaid bin Haritsah. Di bawa oleh paman Khadijah, yaitu Hakim bin Hizam dari Syam sebagai tawanan, lalu ia diambil sebagai pembantu oleh Khadijah. Rasulullah kemudian memintanya dari Khadijah lalu memerdekakannya dan mengadopsinya sebagai anak dan mendidiknya ditengah-tengah mereka.
Demikianlah Rasulullah memulai dakwah beliau yang baru dalam menegakkan masyarakat Islam yang baru dengan memfokuskan perhatian terhadap anak-anak dengan cara memberikan proteksi dengan menyeru dan dengan mendo’akan sehingga akhirnya si anak ini (Ali bin Abi Thalib) kelak memperoleh kemuliaan sebagai tameng Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dengan tidur di rumah beliau pada malam hijrah ke Madinah.
Ini merupakan buah pendidikan yang ditanamkan nabi kepada anak-anak yang sedang tumbuh berkembang agar menjadi pemimpin-pemimpin dimasa depan dan menjadi pendiri masyarakat Islam yang baru.
Pembinaan ke 2
kita telah uraikan pilar pertama dalam pendidikan aqidah anak. Berikutnya kita akan membahas pilar yang kedua, yaitu menanamkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar. Karena hal-hal tersebut merupakan bekal bagi anak untuk menghadapi segala persoalan hidupnya, baik dimasa kanak-kanaknya maupun dimasa depannya sebagai ayah dan ibu.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Janganlah kamu mengangkat tongkat terhadap keluargamu, namun tanamkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada diri mereka.” (HR Thabrani dalam As-Shaghir dan Al-Ausath dengan isnad jayyid).
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Abbas rhadliyallahu’anhu, bahwa dia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah niscaya Dia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada dihadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan mohonlah kepada Allah. Ketahuilah andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”
Dalam riwayat lainnya disebutkan, “Jagalah Allah, niscaya engkau temukan Dia ada dihadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan longgar niscaya Dia akan mengenalmu dalam keadaan sempit. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang luput darimu tidak akan menimpamu dan sesuatu yang menimpamu tidak akan bisa luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu menyertai kesabaran, kelapangan itu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesulitan.” (HR Ahmad, Hakim, dll)
Jika seorang anak telah menghafal hadits ini dan telah memahaminya secara baik, maka Dia tidak akan mendapatkan kendala dihadapannya dan tidak akan mendapatkan sandungan di dalam menjalani seluruh kehidupannya. Hadits ini mempunyai kekuatan yang ampuh dalam memecahkan persoalan anak, disamping juga memiliki pengaruh dalam spiritualitas. Hadits ini mempunyai kemampuan dalam mendorong anak menuju ke depan dengan cara memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selalu merasa diawasi oleh-Nya, serta melalui keimanannya kepada qadha’ dan qadar. Anak-anak para sahabat menerima bimbingan ini langsung dari Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Mereka memohon pertolongan kepada Allah ketika mereka mendapatkan bencana dan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali karena bantuan Allah. Mereka percaya bahwa kelapangan itu selalu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesulitan.
Jadi, pendidikan mana yang kira-kira bisa memberikan pengaruh terhadap kejiwaan anak melebihi pendidikan yang diberikan oleh hadits ini?
Berikut bisa kita saksikan beberapa contoh nyata pada kehidupan para salaf bagaimana mereka menanamkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar. Dan bagaimana hasil yang dicapai dari pendidikan tersebut terhadap anak-anak mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Walid bin Ubadah bahwa dia berkata, “Aku mengunjungi Ubadah (ayah) ketika sakit, dimana ketika itu aku membayangkan bahwa ayah akan segera meninggal. Aku katakan kepadanya, “Wahai ayahku, berikan aku pesan.” Dia berkata, “Dudukkanlah aku.” Ketika sahabat-sahabat telah mendudukkannya, ayah berkata, “Wahai anakku sesungguhnya kamu tidak akan bisa merasakan manisnya iman dan tidak akan sampai pada hakikat pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga engkau beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk.” Aku tanyakan kepadanya, “Wahai Ayah, bagaimana aku bisa mengetahui takdir yang baik maupun yang buruk?” Ayah menjawab, “Engkau mengetahui bahwa yang luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Wahai anakku aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, ‘Sesungguhnya disaat pertama kali Allah menciptakan pena, kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Maka mulai saat itu, pena menuliskan segala hal yang bakal terjadi hingga hari kiamat.’ Wahai anakku, jika kamu minta tidak dalam keadaan seperti itu, maka engkau akan masuk neraka.”
Suatu hari ‘Umar bin Khathab rhadliyallahu’anhu menyusuri jalan saat beliau sudah menjadi amirul mukminin. Di tengah jalan terdapat sekumpulan anak-anak yang sedang berjalan. Ketika mereka melihat Umar, maka semuanya lari menyingkir kecuali satu saja, yaitu Abdullah bin Zubair. Umar merasa heran terhadapnya dan kemudian menanyakan kepadanya mengenai sebab mengapa ia tidak turut lari menyingkir. Dia menjawa, “Saya tidak punya kesalahan yang mengharuskan lari dari Anda, dan saya juga tidak merasa takut kapada Anda yang mengharuskan saya meluaskan jalan untuk Anda.”
Suatu kali Ibnu Umar sedang melakukan perjalanan, Dia melihat seorang budak yang sedang menggembalakan kambing, lalu dia berkata kepadanya, “Apakah kamu mau menjual seekor darinya saja?” Dia menjawab, “Sesungguhnya ia bukan milikku.” Ibnu Umar kemudian berkata, “Katakan saja kepadanya bahwa ada serigala yang telah memangsa seekor darinya.” Budak itu berkata, “Lalu dimanakah Allah?”
Sesudah peristiwa itu hingga sekian lama waktu berikutnya Ibnu Umar sering mengucapkan kata-kata dari si budak itu, “Lalu dimanakah Allah?!”
Dikisahkan pula bahwa ada seorang syaikh mempunyai sekian murid. Namun syaikh ini memberikan perhatian khusus kepada salah seorang dari mereka. Hal ini membuat murid yang lainnya merasa iri sehingga akhirnya mereka mengadukan hal itu kepada sang syaikh. Syaikh itu kemudian berkata kepada mereka, “Mari aku jelaskan kepada kalian!”
Syaikh itu kemudian memberi masing-masing murid seekor burung, lalu berkata kepada mereka, “Sekarang berpencarlah dengan membawa burung ini, dan sembelihlah di tempat yang tidak diketahui oleh siapapun!” tak ketinggalan syaikh juga memberikan burung yang sama kepada murid kesayangannya.
Sesudah itu, seluruhnya mencari tempat tersembunyi guna menyembelih burung, dan tak lama kemudian masing-masing kembali dengan membawa burung yang telah mereka sembelih. Namun si murid kesayangan ini kembali dengan membawa burung yang masih hidup. Sang Syaikh bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak menyembelihnya?” Dia menjawab, “Syaikh menyuruhku untuk menyembelih di tempat yang tidak dilihat oleh siapapun dan aku tidak menemukan satu tempatpun yang tidak dilihat oleh siapapun.” Syaikh kemudian berkata, “Oleh karena itu aku memberikan perhatian yang khusus kepadanya.”
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’nya menampilkan sebuh kisah menarik sebagai berikut: Sahl bin Abdillah At-Tastari berkata, “suatu hari ketika saya berusia tiga tahun, pernah bangun malam. Lalu saya perhatikan shalat yang dilakukan paman saya yang bernama Muhammad bin Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, “Apakah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?” Saya menjawab, “Bagaimana saya bisa mengingat-Nya?” Dia menjawab, “Ucapkan dalam hatimu ketika engkau hendak tidur sebanyak tiga kali tanpa henti, ‘Allah bersamaku, Allah memperhatikanku, dan Allah menyaksikanku.’ Maka saya mengucapkan kata-kata itu pada malam-malam berikutnya, kemudian saya beritahukan hal itu kepadanya. Dia menjawab, “Ucapkan tujuh kali setiap malam.” Saya pun mengucapkannya, lalu saya kabarkan hal itu kepadanya. Ia lantas berkata lagi, “Ucapkan sepuluh kali tiap malam.” Saya pun mengucapkannya, dan kemudian di dalam hati saya terasa ada kemanisannya. Sesudah satu tahun berlalu, paman berkata kepada saya, “Jagalah terus apa yang telah aku ajarkan kepadamu dan lakukanlah terus hingga engkau masuk kubur karena sesungguhnya hal itu akan memberikan kemanfaatan bagimu di dunia dan akhirat.”
Maka aku terus melakukan itu bertahun-tahun, sehingga saya dapatkan kemanisan di dalam hati. Selanjutnya, paman pada suatu hari berkata, “Wahai Sahl, siapa saja yang merasa bahwa Allah senantiasa bersamanya, memperhatikan dan menyaksikannya, apakah dia akan bermaksiat (durhaka) kepada-Nya? Jauhilah kemaksiatan! Aku dahulu pernah menyendiri, namun kemudian aku dikirim ke madrasah. Aku belajar Al-Qur’an dan berhasil mengahafalnya ketika baru berusia enam atau tujuh tahun. Aku juga senantiasa melakukan puasa. Makananku selama dua belas tahun adalah roti yang terbuat dari tepung gandum.”
Ibnu Zhafar Al-Maghribi dalam bukunya, Anba’ Nujaba’ Al-Abna’ (h.148) membawakan sebuah kisah bahwa Al-Harits Al-Muhasibi ketika masih kecil melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain di depan rumah seorang penjual kurma. Al-Harits kemudian berhenti untuk memperhatikan apa yang tengah mereka lakukan. Pemilik kurma itu kemudian keluar dengan membawa sejumlah kurma, lalu dia berkata kepada Al-Harits, “Makanlah kurma-kurma ini!” Al-Harits bertanya, “Beritahukan kepadaku perihal kurma-kurma ini!” Dia menjawab, “Beberapa saat yang lalu saya menjual kurma kepads seseorang, namun kemudian kurmanya terjatuh.” Al-Harits berkata, “Apakah kamu mengetahuinya?” Dia menjawab, “Ya.” Al-Harits kemudian menoleh kepada anak-anak yang sedang bermain itu dan bertanya, “Apakah orang tua ini muslim?” mereka menjawab, “Ya.” Al-Harits lalu pergi meninggalkannya, namun penjual kurma itu mengejar sehingga berhasil menahannya, dan kemudian bertanya kepadanya, “Demi Allah aku tidak akan melepasmu sehingga engkau katakan kepadaku apa sebenarnya yang ada pada benakmu tentang diriku.” Al-Harits kemudian berkata, “Wahai orang tua jika engkau adalah seorang muslim, maka mintalah keikhlasan kepada pemilik kurma itu sehingga engkau bisa lepas dari tanggung jawab, sebagaimana engkau meminta air ketika engkau sangat kehausan. Wahai orang tua, engkau memberi makanan kepada anak-anak muslim dari barang yang haram, sedangkan engkau sendiri adalah seorang muslim?!” orang tua itu kemudian berkata, “ Demi Allah, aku tidak akan lagi berjualan jika hanya untuk keuntungan dunia!”
Demikian beberapa kisah dari para salafus shalih yang menunjukkan betapa pentingnya penanaman kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar, sehingga mereka menjadi generasi terbaik bagi umat ini. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk menanamkan hal tersebut bagi anak-anak kita.
muslimah.or.id
Seseorang akan menghadapi kebingungan bagaimana ia mesti menyampaikannya kepada anak dan bagaimana pula anak bisa berinteraksi dengan itu semua ? bagaimana cara menjelasakan dan memaparkannya? Di hadapan pertanyaan ini atau pertanyaan sejenis lainnya, kedua orangtua bisa kelabakan dan mencari tahu bagaimana caranya. Akan tetapi melalui penelaahan terhadap cara Nabi shalallahu’alaihi wassalam dalam bergaul dengan anak-anak, kita temukan ada lima pilar mendasar di dalam menananmkan aqidah ini.
1. Pendiktean kalimat tauhid kepada anak.
2. Mencintai Allah dan merasa diawasi oleh-Nya, memohon pertolongan kepadaNya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar.
3. Mencintai Nabi dan keluarga beliau.
4. Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak.
5. Menanamkan aqidah yang kuat dan kerelaan berkorban karenanya.
Pendiktean kalimat tauhid kepada anak
Dari ibnu ‘Abbas bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Ajarkan kalimat laailaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)
Abdurrazaq meriwayatkan bahwa para sahabat menyukai untuk mengajarkan kepada nak-anak mereka kalimat laa ilaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.
Ibnu Qayyim dalam kitab Ahkam Al-Maulud mengatakan, “Diawal waktu ketika anak-anak mulai bisa bicara, hendaknya mendiktekan kepada mereka kalimat laa ilaha illa llah muhammadurrasulullah, dan hendaknya sesuatu yang pertama kali didengar oleh telinga mereka adalah laa ilaha illallah (mengenal Allah) dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah bersemayam di atas singgasana-Nya yang senantiasa melihat dan mendengar perkataaan mereka, senantiasa bersama mereka dimanapun mereka berada.”
Oleh karena itu, wasiat Nabi shalallahu’alaihi wassalam kepada Mu’adz radhiyallahu’anhu sebagimanan yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Bukhari dalam Adabul Mufrad, adalah, “Nafkahkanlah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka dan tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.”
Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam sejak pertama kali mendapatkan risalah tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target dakwah beliau. Beliau berangkat menemui Ali bin Ab Thalib yang ketika itu usianya belum genap sepuluh tahun. Beliu shalallahu’alaihi wassalam mengajaknya untuk beriman, yang akhirnya ajakan itu dipenuhinya. Ali bahkan menemani beliau dalam melaksanakan shalat secara sembunyi-sembunyi di lembah Mekkah sehingga tidak diketahui oleh keluarga dan ayahnya sekalipun.
Orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan budak yang dimerdekakan adalah Zaid bin Haritsah. Di bawa oleh paman Khadijah, yaitu Hakim bin Hizam dari Syam sebagai tawanan, lalu ia diambil sebagai pembantu oleh Khadijah. Rasulullah kemudian memintanya dari Khadijah lalu memerdekakannya dan mengadopsinya sebagai anak dan mendidiknya ditengah-tengah mereka.
Demikianlah Rasulullah memulai dakwah beliau yang baru dalam menegakkan masyarakat Islam yang baru dengan memfokuskan perhatian terhadap anak-anak dengan cara memberikan proteksi dengan menyeru dan dengan mendo’akan sehingga akhirnya si anak ini (Ali bin Abi Thalib) kelak memperoleh kemuliaan sebagai tameng Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dengan tidur di rumah beliau pada malam hijrah ke Madinah.
Ini merupakan buah pendidikan yang ditanamkan nabi kepada anak-anak yang sedang tumbuh berkembang agar menjadi pemimpin-pemimpin dimasa depan dan menjadi pendiri masyarakat Islam yang baru.
Pembinaan ke 2
kita telah uraikan pilar pertama dalam pendidikan aqidah anak. Berikutnya kita akan membahas pilar yang kedua, yaitu menanamkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar. Karena hal-hal tersebut merupakan bekal bagi anak untuk menghadapi segala persoalan hidupnya, baik dimasa kanak-kanaknya maupun dimasa depannya sebagai ayah dan ibu.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda, “Janganlah kamu mengangkat tongkat terhadap keluargamu, namun tanamkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada diri mereka.” (HR Thabrani dalam As-Shaghir dan Al-Ausath dengan isnad jayyid).
Imam Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Ibnu ‘Abbas rhadliyallahu’anhu, bahwa dia berkata: Pada suatu hari saya pernah membonceng di belakang Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, lalu beliau bersabda, “Wahai anak muda sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah niscaya Dia juga akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya ada dihadapanmu. Apabila engkau meminta sesuatu mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan mohonlah kepada Allah. Ketahuilah andaikan saja umat seluruhnya berkumpul untuk memberikan kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaikan saja mereka bersatu untuk menimpakan kemudharatan terhadapmu, mereka tidak akan bisa memberikan kemudharatan itu terhadapmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembar catatan telah kering.”
Dalam riwayat lainnya disebutkan, “Jagalah Allah, niscaya engkau temukan Dia ada dihadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan longgar niscaya Dia akan mengenalmu dalam keadaan sempit. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang luput darimu tidak akan menimpamu dan sesuatu yang menimpamu tidak akan bisa luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu menyertai kesabaran, kelapangan itu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesulitan.” (HR Ahmad, Hakim, dll)
Jika seorang anak telah menghafal hadits ini dan telah memahaminya secara baik, maka Dia tidak akan mendapatkan kendala dihadapannya dan tidak akan mendapatkan sandungan di dalam menjalani seluruh kehidupannya. Hadits ini mempunyai kekuatan yang ampuh dalam memecahkan persoalan anak, disamping juga memiliki pengaruh dalam spiritualitas. Hadits ini mempunyai kemampuan dalam mendorong anak menuju ke depan dengan cara memohon pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selalu merasa diawasi oleh-Nya, serta melalui keimanannya kepada qadha’ dan qadar. Anak-anak para sahabat menerima bimbingan ini langsung dari Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam. Mereka memohon pertolongan kepada Allah ketika mereka mendapatkan bencana dan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali karena bantuan Allah. Mereka percaya bahwa kelapangan itu selalu menyertai kesempitan dan kemudahan itu menyertai kesulitan.
Jadi, pendidikan mana yang kira-kira bisa memberikan pengaruh terhadap kejiwaan anak melebihi pendidikan yang diberikan oleh hadits ini?
Berikut bisa kita saksikan beberapa contoh nyata pada kehidupan para salaf bagaimana mereka menanamkan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar. Dan bagaimana hasil yang dicapai dari pendidikan tersebut terhadap anak-anak mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Walid bin Ubadah bahwa dia berkata, “Aku mengunjungi Ubadah (ayah) ketika sakit, dimana ketika itu aku membayangkan bahwa ayah akan segera meninggal. Aku katakan kepadanya, “Wahai ayahku, berikan aku pesan.” Dia berkata, “Dudukkanlah aku.” Ketika sahabat-sahabat telah mendudukkannya, ayah berkata, “Wahai anakku sesungguhnya kamu tidak akan bisa merasakan manisnya iman dan tidak akan sampai pada hakikat pengenalan kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga engkau beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk.” Aku tanyakan kepadanya, “Wahai Ayah, bagaimana aku bisa mengetahui takdir yang baik maupun yang buruk?” Ayah menjawab, “Engkau mengetahui bahwa yang luput darimu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Wahai anakku aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda, ‘Sesungguhnya disaat pertama kali Allah menciptakan pena, kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’ Maka mulai saat itu, pena menuliskan segala hal yang bakal terjadi hingga hari kiamat.’ Wahai anakku, jika kamu minta tidak dalam keadaan seperti itu, maka engkau akan masuk neraka.”
Suatu hari ‘Umar bin Khathab rhadliyallahu’anhu menyusuri jalan saat beliau sudah menjadi amirul mukminin. Di tengah jalan terdapat sekumpulan anak-anak yang sedang berjalan. Ketika mereka melihat Umar, maka semuanya lari menyingkir kecuali satu saja, yaitu Abdullah bin Zubair. Umar merasa heran terhadapnya dan kemudian menanyakan kepadanya mengenai sebab mengapa ia tidak turut lari menyingkir. Dia menjawa, “Saya tidak punya kesalahan yang mengharuskan lari dari Anda, dan saya juga tidak merasa takut kapada Anda yang mengharuskan saya meluaskan jalan untuk Anda.”
Suatu kali Ibnu Umar sedang melakukan perjalanan, Dia melihat seorang budak yang sedang menggembalakan kambing, lalu dia berkata kepadanya, “Apakah kamu mau menjual seekor darinya saja?” Dia menjawab, “Sesungguhnya ia bukan milikku.” Ibnu Umar kemudian berkata, “Katakan saja kepadanya bahwa ada serigala yang telah memangsa seekor darinya.” Budak itu berkata, “Lalu dimanakah Allah?”
Sesudah peristiwa itu hingga sekian lama waktu berikutnya Ibnu Umar sering mengucapkan kata-kata dari si budak itu, “Lalu dimanakah Allah?!”
Dikisahkan pula bahwa ada seorang syaikh mempunyai sekian murid. Namun syaikh ini memberikan perhatian khusus kepada salah seorang dari mereka. Hal ini membuat murid yang lainnya merasa iri sehingga akhirnya mereka mengadukan hal itu kepada sang syaikh. Syaikh itu kemudian berkata kepada mereka, “Mari aku jelaskan kepada kalian!”
Syaikh itu kemudian memberi masing-masing murid seekor burung, lalu berkata kepada mereka, “Sekarang berpencarlah dengan membawa burung ini, dan sembelihlah di tempat yang tidak diketahui oleh siapapun!” tak ketinggalan syaikh juga memberikan burung yang sama kepada murid kesayangannya.
Sesudah itu, seluruhnya mencari tempat tersembunyi guna menyembelih burung, dan tak lama kemudian masing-masing kembali dengan membawa burung yang telah mereka sembelih. Namun si murid kesayangan ini kembali dengan membawa burung yang masih hidup. Sang Syaikh bertanya kepadanya, “Kenapa engkau tidak menyembelihnya?” Dia menjawab, “Syaikh menyuruhku untuk menyembelih di tempat yang tidak dilihat oleh siapapun dan aku tidak menemukan satu tempatpun yang tidak dilihat oleh siapapun.” Syaikh kemudian berkata, “Oleh karena itu aku memberikan perhatian yang khusus kepadanya.”
Imam Ghazali dalam kitab Ihya’nya menampilkan sebuh kisah menarik sebagai berikut: Sahl bin Abdillah At-Tastari berkata, “suatu hari ketika saya berusia tiga tahun, pernah bangun malam. Lalu saya perhatikan shalat yang dilakukan paman saya yang bernama Muhammad bin Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, “Apakah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?” Saya menjawab, “Bagaimana saya bisa mengingat-Nya?” Dia menjawab, “Ucapkan dalam hatimu ketika engkau hendak tidur sebanyak tiga kali tanpa henti, ‘Allah bersamaku, Allah memperhatikanku, dan Allah menyaksikanku.’ Maka saya mengucapkan kata-kata itu pada malam-malam berikutnya, kemudian saya beritahukan hal itu kepadanya. Dia menjawab, “Ucapkan tujuh kali setiap malam.” Saya pun mengucapkannya, lalu saya kabarkan hal itu kepadanya. Ia lantas berkata lagi, “Ucapkan sepuluh kali tiap malam.” Saya pun mengucapkannya, dan kemudian di dalam hati saya terasa ada kemanisannya. Sesudah satu tahun berlalu, paman berkata kepada saya, “Jagalah terus apa yang telah aku ajarkan kepadamu dan lakukanlah terus hingga engkau masuk kubur karena sesungguhnya hal itu akan memberikan kemanfaatan bagimu di dunia dan akhirat.”
Maka aku terus melakukan itu bertahun-tahun, sehingga saya dapatkan kemanisan di dalam hati. Selanjutnya, paman pada suatu hari berkata, “Wahai Sahl, siapa saja yang merasa bahwa Allah senantiasa bersamanya, memperhatikan dan menyaksikannya, apakah dia akan bermaksiat (durhaka) kepada-Nya? Jauhilah kemaksiatan! Aku dahulu pernah menyendiri, namun kemudian aku dikirim ke madrasah. Aku belajar Al-Qur’an dan berhasil mengahafalnya ketika baru berusia enam atau tujuh tahun. Aku juga senantiasa melakukan puasa. Makananku selama dua belas tahun adalah roti yang terbuat dari tepung gandum.”
Ibnu Zhafar Al-Maghribi dalam bukunya, Anba’ Nujaba’ Al-Abna’ (h.148) membawakan sebuah kisah bahwa Al-Harits Al-Muhasibi ketika masih kecil melewati sekelompok anak kecil yang sedang bermain di depan rumah seorang penjual kurma. Al-Harits kemudian berhenti untuk memperhatikan apa yang tengah mereka lakukan. Pemilik kurma itu kemudian keluar dengan membawa sejumlah kurma, lalu dia berkata kepada Al-Harits, “Makanlah kurma-kurma ini!” Al-Harits bertanya, “Beritahukan kepadaku perihal kurma-kurma ini!” Dia menjawab, “Beberapa saat yang lalu saya menjual kurma kepads seseorang, namun kemudian kurmanya terjatuh.” Al-Harits berkata, “Apakah kamu mengetahuinya?” Dia menjawab, “Ya.” Al-Harits kemudian menoleh kepada anak-anak yang sedang bermain itu dan bertanya, “Apakah orang tua ini muslim?” mereka menjawab, “Ya.” Al-Harits lalu pergi meninggalkannya, namun penjual kurma itu mengejar sehingga berhasil menahannya, dan kemudian bertanya kepadanya, “Demi Allah aku tidak akan melepasmu sehingga engkau katakan kepadaku apa sebenarnya yang ada pada benakmu tentang diriku.” Al-Harits kemudian berkata, “Wahai orang tua jika engkau adalah seorang muslim, maka mintalah keikhlasan kepada pemilik kurma itu sehingga engkau bisa lepas dari tanggung jawab, sebagaimana engkau meminta air ketika engkau sangat kehausan. Wahai orang tua, engkau memberi makanan kepada anak-anak muslim dari barang yang haram, sedangkan engkau sendiri adalah seorang muslim?!” orang tua itu kemudian berkata, “ Demi Allah, aku tidak akan lagi berjualan jika hanya untuk keuntungan dunia!”
Demikian beberapa kisah dari para salafus shalih yang menunjukkan betapa pentingnya penanaman kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, memohon pertolongan-Nya, merasa selalu diawasi oleh-Nya, serta beriman kepada qadha’ dan qadar, sehingga mereka menjadi generasi terbaik bagi umat ini. Semoga kita diberi kemudahan oleh Allah untuk menanamkan hal tersebut bagi anak-anak kita.
muslimah.or.id
Cinta Sejati Dalam Islam
Cinta Sejati Dalam Islam
Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).
Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.
Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?
Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.
Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.
Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.
Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)
Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102
“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.
Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.
***
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com
Footnote:
1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/cinta-sejati-dalam-islam.html
Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?
Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.
Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?
Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.
Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).
Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.
Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?
Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.
Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.
Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.
Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?
Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:
Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah
Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?
Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita
Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.
Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,
Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.
Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.
Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.
Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”
Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:
يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.
“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)
Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)
Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?
Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره
“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:
كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ
Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).
Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:
حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ
Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:
فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102
“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)
Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?
Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.
Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?
Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه
“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dan pada hadits lain beliau bersabda:
إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.
“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)
Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.
الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67
“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)
Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه
“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)
Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.
Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.
Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…
Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.
***
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com
Footnote:
1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):
مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ
“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”
http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/cinta-sejati-dalam-islam.html
Selasa, 01 November 2011
Jangan Sepelekan Sakit Perut ,!!!!
Sembelit, dalam istilah kedokteran disebut konstipasi, adalah keadaan di mana waktu transit makanan dalam usus berlangsung lebih dari 72 jam. Alhasil, terjadi konsistensi tinja yang keras dan pencernaan terasa tidak nyaman seperti kembung, perut terasa penuh, dan berat.
Menurut dr Fajar Rudy Qimindra, sembelit sebenarnya bukanlah suatu penyakit, melainkan keluhan penderita. Tapi, jika berlangsung terus menerus, penderita bisa terkena kanker usus besar.
"Sembelit adalah keluhan yang bersifat subjektif. Variasinya tergantung individu masing-masing. Umumnya, frekuensi seseorang buang air besar mulai tiga kali per hari, sekali per hari, hingga tiga kali per pekan," kata dr Fajar.
Ketika makanan masuk ke tubuh, usus akan segera menyerap air dan membentuk bahan sisa limbah makan yang disebut tinja. Kontraksi dari otot usus akan mendorong tinja ke bagian usus terakhir yang disebut rectum. Pada sembelit, tinja jadi padat dan kering akibat terlalu banyak penyerapan air.
"Hal ini disebabkan kontraksi otot usus yang perlahan-lahan dan malas sehingga tinja bergerak terlalu lama ke arah rectum," jelas dr Fajar.
Makin lama sembelit berlangsung, makin keras tinja yang harus dikeluarkan. Dengan tinja yang sudah begitu keras, tentu akan lebih sulit mengeluarkannya. Akibatnya liang dubur terluka.
"Liang dubur pun bisa mengalami keretakan (fissura) akibat terdesak dan tergesek oleh tinja yang keras serta desakan mengeden yang kuat," ujar Dr Hendrawan Nadesul.
Kaum perempuan, menurut Dr Hendrawan, lebih sering sembeilt dibandingkan laki-laki. Hal itu disebabkan pengaruh estrogen sebagai hormon utama yang dimiliki perempuan.
"Jadi, dibandingkan pria, wanita memang lebih sering mengalami gangguan transit dalam usus, termasuk sembelit dan radang (inflamasi) pada perut," kata Dr Hendrawan.
Hingga saat ini, gejala sakit perut dan sembelit sering diabaikan. Banyak orang, bahkan, tidak peduli terhadap siklus buang air besar. Padahal, menurut ahli kanker dari RS Dharmais Dr Adil Pasaribu Sp B KBD, dengan mengenali siklus itu, gejala penyakit kanker usus besar bisa dideteksi lebih dini.
Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker usus bisa dipicu oleh gejala-gejala yang sering dianggap remeh seperti cara diet yang salah, yang menyebabkan perubahan kebiasaan buang air besar dan sembelit.
Hal lain yang juga bisa menyebabkan kanker usus adalah pola hidup yang salah. Salah satu faktor penyebabnya, antara lain, kurangnya asupan makanan berserat, kurang olahraga, meningkatnya penggunaan obat-obatan dan pencahar.
Mengatasi sembelit, dr Fajar menyarankan penderita untuk mencoba beberapa terapi sebelum mengkonsumsi obat. Terapi yang diberikan berupa kombinasi makanan tinggi serat dan air, latihan jasmani, dan bowel training, yaitu membuat jadwal untuk buang air besar.
Dalam sehari, kebutuhan serat manusia adalah 20-35 gram. Selain berguna untuk membentuk gumpalan tinja, serat juga bisa menurunkan waktu transit. Serat dalam sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, termasuk gandum, merangsang gerakan peristaltik usus.
Prebiotik yang mengandung oligosakarida seperti pisang, papaya, ubi, dan bawang juga bisa dikonsumsi. Tapi, dr Fajar mengingatkan bahwa pemberian serat ini harus diimbangi dengan cairan yang cukup.
"Jika tidak ada kontra indikasi seperti sakit ginjal, dianjurkan minum sekurang-kurangnya 6-8 gelas per hari (kurang lebih 1500 -2000 ml)," ujar dr Fajar.
Menu yang harus dihindari karena memicu sembelit adalah protein seperti daging, susu, keju dan buah-buahan seperti salak, jambu biji (klutuk), dan apel. Demikian juga obat flu dan batuk
http://www.inilah.com/read/detail/36926/jangan-sepelekan-sakit-perut
Menurut dr Fajar Rudy Qimindra, sembelit sebenarnya bukanlah suatu penyakit, melainkan keluhan penderita. Tapi, jika berlangsung terus menerus, penderita bisa terkena kanker usus besar.
"Sembelit adalah keluhan yang bersifat subjektif. Variasinya tergantung individu masing-masing. Umumnya, frekuensi seseorang buang air besar mulai tiga kali per hari, sekali per hari, hingga tiga kali per pekan," kata dr Fajar.
Ketika makanan masuk ke tubuh, usus akan segera menyerap air dan membentuk bahan sisa limbah makan yang disebut tinja. Kontraksi dari otot usus akan mendorong tinja ke bagian usus terakhir yang disebut rectum. Pada sembelit, tinja jadi padat dan kering akibat terlalu banyak penyerapan air.
"Hal ini disebabkan kontraksi otot usus yang perlahan-lahan dan malas sehingga tinja bergerak terlalu lama ke arah rectum," jelas dr Fajar.
Makin lama sembelit berlangsung, makin keras tinja yang harus dikeluarkan. Dengan tinja yang sudah begitu keras, tentu akan lebih sulit mengeluarkannya. Akibatnya liang dubur terluka.
"Liang dubur pun bisa mengalami keretakan (fissura) akibat terdesak dan tergesek oleh tinja yang keras serta desakan mengeden yang kuat," ujar Dr Hendrawan Nadesul.
Kaum perempuan, menurut Dr Hendrawan, lebih sering sembeilt dibandingkan laki-laki. Hal itu disebabkan pengaruh estrogen sebagai hormon utama yang dimiliki perempuan.
"Jadi, dibandingkan pria, wanita memang lebih sering mengalami gangguan transit dalam usus, termasuk sembelit dan radang (inflamasi) pada perut," kata Dr Hendrawan.
Hingga saat ini, gejala sakit perut dan sembelit sering diabaikan. Banyak orang, bahkan, tidak peduli terhadap siklus buang air besar. Padahal, menurut ahli kanker dari RS Dharmais Dr Adil Pasaribu Sp B KBD, dengan mengenali siklus itu, gejala penyakit kanker usus besar bisa dideteksi lebih dini.
Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker usus bisa dipicu oleh gejala-gejala yang sering dianggap remeh seperti cara diet yang salah, yang menyebabkan perubahan kebiasaan buang air besar dan sembelit.
Hal lain yang juga bisa menyebabkan kanker usus adalah pola hidup yang salah. Salah satu faktor penyebabnya, antara lain, kurangnya asupan makanan berserat, kurang olahraga, meningkatnya penggunaan obat-obatan dan pencahar.
Mengatasi sembelit, dr Fajar menyarankan penderita untuk mencoba beberapa terapi sebelum mengkonsumsi obat. Terapi yang diberikan berupa kombinasi makanan tinggi serat dan air, latihan jasmani, dan bowel training, yaitu membuat jadwal untuk buang air besar.
Dalam sehari, kebutuhan serat manusia adalah 20-35 gram. Selain berguna untuk membentuk gumpalan tinja, serat juga bisa menurunkan waktu transit. Serat dalam sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, termasuk gandum, merangsang gerakan peristaltik usus.
Prebiotik yang mengandung oligosakarida seperti pisang, papaya, ubi, dan bawang juga bisa dikonsumsi. Tapi, dr Fajar mengingatkan bahwa pemberian serat ini harus diimbangi dengan cairan yang cukup.
"Jika tidak ada kontra indikasi seperti sakit ginjal, dianjurkan minum sekurang-kurangnya 6-8 gelas per hari (kurang lebih 1500 -2000 ml)," ujar dr Fajar.
Menu yang harus dihindari karena memicu sembelit adalah protein seperti daging, susu, keju dan buah-buahan seperti salak, jambu biji (klutuk), dan apel. Demikian juga obat flu dan batuk
http://www.inilah.com/read/detail/36926/jangan-sepelekan-sakit-perut
Langganan:
Postingan (Atom)
