Kamis, 09 September 2010
7 Minuman Sehat Pengganti Air Putih
Ternyata Es Teh Berbahaya Bagi Ginjal
Darimana Sebenarnya Asal-Usul Ketupat?


Fungsi KTP (Kartu Tanda Penduduk)
Sabtu, 14 Agustus 2010
Adab-Adab Berpuasa
Adab-Adab Berpuasa
A. Makan Sahur
Orang yg berpuasa sangat dianjurkan utk makan sahur. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Amru bin Al-‘Ash z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُوْرِ
“Perbedaan antara puasa kami dgn puasa ahli kitab adl makan sahur.”
Dari Salman z
Rasulullah n
bersabda:
الْبَرَكَةُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: الْجَمَاعَةِ وَالثَّرِيْدِ وَالسَّحُوْرِ
“Berkah ada pada 3 hal: berjamaah tsarid dan makan sahur.”
Disukai utk mengakhirkan makan sahur berdasarkan hadits Anas dari Zaid bin Tsabit z
ia berkata:
Kami makan sahur bersama Rasulullah n
kemudian beliau bangkit menuju shalat. Aku bertanya: “Berapa jarak antara adzan1 dan sahur?” Beliau menjawab: “Kadar 50 ayat.”
Namun apa yg diistilahkan oleh kebanyakan kaum muslimin dgn istilah imsak yaitu menahan beberapa saat sebelum adzan Shubuh adl perbuatan bid’ah krn dlm ajaran nabi n
tak ada imsak kecuali bila adzan fajar dikumandangkan. Rasulullah n
bersabda:
إِذَا أَذَّنَ بِلاَلٌ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍِ
“Apabila Bilal mengumandangkan adzan mk makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.”
Bahkan bagi orang yg ketika adzan dikumandangkan masih memegang gelas dan semisal utk minum diberikan rukhshah khusus bagi sehingga dia boleh meminumnya.
Abu Hurairah z
meriwayatkan bahwa Rasulullah n
bersabda:
إِذَ سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءُ وَاْلإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
“Jika salah seorang kalian mendengar panggilan sedangkan bejana ada di tangan mk janganlah dia meletakkan hingga menunaikan keinginan dari bejana .”
Hukum makan sahur adl sunnah muakkadah. Berkata Ibnul Mundzir: “Umat ini telah bersepakat bahwa makan sahur hukum sunnah dan tdk ada dosa bagi yg tdk melakukan berdasarkan hadits Anas bin Malik z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً
“Makan sahurlah krn sesungguh pada makan sahur itu ada barakahnya.”
Dianjurkan makan sahur dgn buah kurma jika ada dan boleh dgn yg lain berdasarkan hadits Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
نِعْمَ السَّحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ
“Sebaik-baik sahur seorang mukmin adl buah kurma.”
Jika seseorang ragu apakah fajar telah terbit atau belum mk boleh dia makan dan minum sampai dia yakin bahwa fajar telah terbit.
Firman Allah k
:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ
“Makan dan minumlah kalian hingga jelas bagimu benang putih dan benang hitam yaitu fajar .”
Berkata As-Sa’di t
: “Pada terdapat bahwa jika makan dan semisal dlm keadaan ragu akan terbit fajar mk tdk mengapa.”
B. Berbuka Puasa
Orang yg berpuasa dianjurkan utk mempercepat berbuka jika memang telah masuk waktu berbuka. Tidak boleh menunda meski ia merasa masih kuat utk berpuasa. ‘Amr bin Maimun Al-Audi meriwayatkan:
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْجَلَ النَّاسِ إِفْطًارًا وَأَبْطَأَهُمْ سُحُوْرًا
“Para shahabat Muhammad n
adl orang yg paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya.”
Berkata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t
:
“Cepat-cepat berbuka puasa bila telah terbenam matahari bukan krn adzan. Namun di waktu sekarang manusia menyesuaikan adzan dgn jam-jam mereka. mk bila matahari telah terbenam boleh bagi kalian berbuka walaupun muadzdzin belum mengumandangkan adzan.”
Buka puasa dilakukan dlm keadaan ia mengetahui dgn yakin bahwa matahari telah terbenam. Hal ini bisa dilakukan dgn melihat di lautan dan semisalnya. Adapun hanya sekedar menduga dgn kegelapan dan semisal mk bukan dalil atas terbenam matahari. Wallahu a’lam.
Mempercepat buka puasa adl mengikuti Sunnah Rasulullah n
. Sahl bin Sa’ad z
meriwayatkan Rasulullah n
bersabda:
لاَ تَزَالُ أُمَّتِيْ عَلَى سُنَّتِيْ مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُوْمَ
“Senantiasa umatku berada di atas Sunnahku selama mereka tdk menunggu bintang ketika hendak berbuka.”
Mempercepat berbuka puasa akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Seperti yg diriwayatkan Sahl bin Sa’ad z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الفِّطْرَ
“Senantiasa manusia berada dlm kebaikan selama mereka mempercepat buka puasa.”
Mempercepat berbuka puasa adl perbuatan menyelisihi Yahudi dan Nashara. Abu Hurairah z
berkata Rasulullah n
bersabda:
لاَ يَزَالُ هَذَا الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ
“Senantiasa agama ini nampak jelas selama manusia mempercepat buka puasa krn Yahudi dan Nashara mengakhirkannya.”
Selain itu mempercepat buka puasa termasuk akhlak kenabian. Sebagaimana dikatakan ‘Aisyah x
:
ثَلاَثٌ مِنْ أَخْلاَقِ النُّبُوَّةِ: تَعْجِيْلُ اْلإِفْطَارِ وَالتَّأْخِيْرُ السُّحُوْرِ وَوَضْعُ الْيَمِيْنِ عَلَى الشِّمَالِ فِي الصَّلاَةِ
“Tiga hal dari akhlak kenabian: mempercepat berbuka mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dlm shalat.”
Orang harus berbuka puasa lbh dahulu sebelum shalat Maghrib berdasarkan hadits Anas z
bahwa Rasulullah n
berbuka puasa sebelum shalat dan makanan yg paling dianjurkan utk berbuka puasa adl kurma. Anas bin Malik z
berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٍ فَتُمَيْرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٍ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
“Adalah Nabi n
berbuka dgn ruthab sebelum shalat bila tdk ada ruthab mk dgn tamr bila tdk ada mk dgn beberapa teguk air.”
Jangan lupa berdoa sebelum berbuka puasa dgn doa:
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى
“Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat dan telah tetap pahala insya Allah k
.”
Orang yg menjalankan ibadah puasa diharuskan menjauhkan perkataan dusta sebagaimana yg terdapat dlm hadits Abu Hurairah z
bersabda Rasulullah n
:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Siapa yg tdk meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkan mk tdk ada keinginan Allah pada puasanya”
1 Yang dimaksud adl iqomah krn terkadang iqomah disebut adzan wallahu a’lam. Yang dimaksud dgn sahur adl akhir waktu sahur yaitu ketika masuk waktu shubuh sebagaimana akan lbh jelas pada artikel ‘Sahur dan Berbuka’ -red.
Pembatal Puasa
a. Makan dan minum dgn sengaja
Allah k
berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam dari fajar kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.”
Namun jika seseorang lupa mk puasa tdk batal berdasarkan hadits Rasulullah n
:
إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ
“Jika ia lupa lalu makan dan minum mk hendaklah dia sempurnakan puasa krn sesungguh Allah yg memberi makan dan minum.”
b. Keluar darah haidh dan nifas
Hal ini sebagaimana dikatakan ‘Aisyah x
:
“Adalah kami mengalami mk kami diperintahkan utk meng-qadha puasa dan tdk diperintahkan meng-qadha shalat.”
Para ulama telah sepakat dlm perkara ini.
c. Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan
Hal ini berdasarkan dalil Al Qur’an As Sunnah dan kesepakatan para ulama. Bagi yg melakukan diharuskan membayar kaffarah yaitu membebaskan budak bila tdk mampu mk berpuasa dua bulan secara terus-menerus dan bila tdk mampu juga mk memberi makan 60 orang miskin. Tidak ada qadha bagi menurut pendapat yg kuat. Hukum ini berlaku secara umum baik bagi laki2 maupun perempuan.
Adapun bila seseorang melakukan hubungan suami istri krn lupa bahwa dia sedang berpuasa mk pendapat yg kuat dari para ulama adl puasa tdk batal tdk ada qadha dan tdk pula kaffarah. Hal ini sebagaimana hadits Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ نَاسِيًا فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ وَلاَ كَفَّارَةَ
“Barangsiapa yg berbuka sehari di bulan Ramadhan krn lupa mk tdk ada qadha atas dan tdk ada kaffarah .”
Kata ifthar mencakup makan minum dan bersetubuh. Inilah pendapat jumhur ulama dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaukani rahimahumallah.
d. Berbekam
Ini termasuk perkara yg membatalkan puasa menurut pendapat yg rajih berdasarkan hadits Rasulullah n
:
أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُوْمُ
“Telah berbuka orang yg berbekam dan yg dibekam.”
Hadits ini shahih dan diriwayatkan dari kurang lbh 18 orang shahabat dan dishahihkan oleh para ulama seperti Al-Imam Ahmad Al-Bukhari Ibnul Madini dan yg lainnya. Ini merupakan pendapat Al-Imam Ahmad dan Ishaq bin Rahuyah serta dikuatkan oleh Ibnul Mundzir.
Ada beberapa perkara lain yg juga disebutkan sebagian para ulama bahwa hal tersebut termasuk pembatal puasa di antaranya:
a. Muntah dgn sengaja
Namun yg rajih dari pendapat ulama bahwa muntah tidaklah membatalkan puasa secara mutlak sengaja atau tdk sengaja. Sebab asal puasa seorang muslim adl sah tidaklah sesuatu itu membatalkan kecuali dgn dalil. Adapun hadits Abu Hurairah z
bahwa Rasulullah n
bersabda:
مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلاَ قَضَاءَ عَلَيْهِ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ
“Barangsiapa yg dikalahkan oleh muntah mk tdk ada sesuatu atas dan barangsiapa yg sengaja muntah mk hendaklah dia meng-qadha .”
Hadits ini dilemahkan oleh para ulama di antara Al-Bukhari dan Ahmad. Juga dilemahkan oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi t
.
Namun jika muntah tersebut keluar lalu dia sengaja memasukkan kembali mk hal ini membatalkan puasanya.
b. Menggunakan cairan penngganti makanan seperti infus
Terjadi perselisihan di kalangan para ulama dan yg rajih bahwa suntikan terbagi menjadi dua bagian:
1}. Suntikan yg kedudukan sebagai pengganti makanan mk hal ini membatalkan puasa sebab nash-nash syari’at bila didapatkan pada sesuatu yg termasuk dlm penggambaran yg sama mk dihukumi sama seperti yg terdapat dlm nash.
2}.Suntikan yg tdk berkedudukan sebagai pengganti makanan mk hal ini tidaklah membatalkan puasa sebab gambaran tdk seperti yg terdapat dlm nash baik lafadz maupun makna tdk dikatakan makan dan tdk pula minum dan tdk pula termasuk dlm makna keduanya. Dan asal adl sah puasa seorang muslim sampai meyakinkan pembatal berdasarkan dalil yg syar’i.
Namun Asy-Syaikh Muqbil t
menasehatkan bagi orang yg sakit utk berbuka dan tdk berpuasa agar tdk terjatuh ke dlm sesuatu yg menimbulkan syubhat.
c. Onani
Pendapat yg rajih dari pendapat para ulama bahwa onani tidaklah membatalkan puasa namun termasuk perbuatan dosa yg diharamkan melakukan baik ketika berpuasa maupun tidak. Allah k
berfirman menyebutkan di antara ciri-ciri orang mukmin:
وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ
“Dan orang yg memelihara kemaluan kecuali kepada istri-istri atau budak wanita yg mereka miliki. mk sesungguh tdk tercela. mk barangsiapa yg mencari selain itu mereka itulah orang2 yg melampaui batas.”
Hal-Hal yg Diperbolehkan Bagi Orang yg Berpuasa
a. Bersiwak
Rasulullah n
bersabda:
لَوْ لاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ
“Jika aku tdk memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak tiap hendak shalat.”
b. Masuk waktu fajar dlm keadaan junub
Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah c
bahwa Nabi n
mendapati waktu fajar dlm keadaan junub setelah istri kemudian beliau mandi dan berpuasa.
c. Berkumur-kumur dan memasukkan air ke dlm hidung asal tdk berlebihan
Laqith bin Shabirah meriwayatkan bahwa Rasulullah n
bersabda:
وَبَالِغْ فِي اْلإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا
“Dan bersungguh-sungguhlah kalian dlm ber-istinsyaq kecuali bila kalian berpuasa.”
d. Menggauli istri selain bersetubuh
Sebagaimana yg dikatakan oleh ‘Aisyah x
:
“Adalah Rasulullah n
mencium dan beliau berpuasa menggauli dan beliau berpuasa.”
e. Mencicipi makanan dan mencium asal tdk memasukkan ke dlm kerongkongan
Berkata Ibnu ‘Abbas c
:
“Tidak mengapa seseorang mencicipi cuka atau sesuatu selama tdk masuk kerongkongan dlm keadaan dia berpuasa.”
f. Mandi di siang hari
Sebagaimana yg terdapat pada kisah junub Nabi n
yg telah lalu.
Perbuatan yg Dianjurkan di bulan Ramadhan
a. Memperbanyak shadaqah
b. Memperbanyak bacaan Al Qur’an dzikir doa dan shalat
Ibnu ‘Abbas c
meriwayatkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Rasulullah n
adl orang yg paling dermawan dan beliau lbh dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menemui lalu membacakan pada Al Qur`an.”
c. Memberikan makan kepada orang yg berbuka puasa
Rasulullah n
bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa yg memberi makan orang yg berpuasa mk bagi seperti pahala dlm keadaan tdk berkurang sedikitpun dari pahala orang yg berpuasa itu.” .
Wallahul muwaffiq.
Sumber: www.asysyariah.com
penulis Al-Ustadz Abu Abdirrahman Al-Bugisi
Hiasi Dirimu dengan Rasa Malu
Berhiaslah dgn Rasa Malu
Ingar-bingar kehidupan remaja kita yg tercermin dari tata pergaulan sudah sampai pada taraf yg sangat memprihatinkan. Rasa malu seakan memunah sementara ‘keberanian’ merambati perilaku mereka
Di sudut sebuah sekolah seorang gadis kecil berseragam sekolah melenggang diiringi langkah dgn sejumlah teman laki-lakinya. tdk canggung dia melempar senyum tertawa dan bercanda dgn mereka. Di dlm kelas suatu yg lazim murid laki2 duduk bersama dan berdiskusi dgn murid perempuan. Justru suatu pemandangan yg ‘aneh’ bila ada seorang murid yg merasa malu melakukan semua itu. Gelaran ‘kuper’ ‘kutu buku’ ‘sok alim’ ‘anak kampungan’ atau yg lain bakal segera menghampirinya
Belum lagi di tempat lain yg lazim dikunjungi anak-anak ‘baru gede’ seusai sekolah atau di waktu senggang mereka. Dengan sedikit memoles bibir dgn lipstik disertai busana yg sedikit ‘berani’ mereka pun menjelajahi mal-mal. Entah benar-benar utk berbelanja atau sekedar nampang. tdk sedikit pun rasa canggung menghampiri hati mereka
Allahul musta’an Ha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sajalah kita mengadukan segala kepahitan ini. Di kala rasa malu dlm jiwa anak-anak sudah terkikis. Mereka tdk sungkan lagi melakukan segala sesuatu yg dianggap aib oleh syariat. Benarlah apa yg pernah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg disampaikan pada kita oleh Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ “Sesungguh di antara apa yg didapati manusia dari ucapan nabi-nabi yg terdahulu adl ‘Apabila engkau tdk malu mk lakukan apa pun yg engkau mau’.” Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullahu mengatakan –sebagaimana dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu– “Yang dapat mencegah seseorang terjatuh dlm kejelekan adl rasa malu.Sehingga bila dia tinggalkan rasa malu itu seolah-olah dia diperintah secara tabiat utk melakukan segala macam kejelekan.” Sebenar apa malu itu? Para ulama menjelaskan malu hakikat adl akhlak yg dapat membawa seseorang utk meninggalkan perbuatan tercela dan mencegah dari mengurangi hak yg lainnya. Demikian dikatakan oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dlm kitab beliau Riyadhush Shalihin Kitabul Adab Bab Al-Haya` wa Fadhluhu wal Hatstsu ‘alat Takhalluqi bihi
Malu yg ada pada diri manusia ada dua macam: Pertama malu yg berasal dari tabiat dasar seseorang. Ada sebagian orang yg Allah Subhanahu wa Ta’ala anugerahi sifat malu sehingga kita dapati orang itu pemalu sejak kecil. Tidak berbicara kecuali pada sesuatu yg penting dan tdk melakukan suatu perbuatan kecuali ketika ada kepentingan krn dia pemalu
Kedua malu yg diupayakan dari latihan bukan pembawaan. Arti seseorang tadi bukan seorang pemalu. Dia cakap dlm berbicara dan tangkas berbuat apa pun. Lalu dia bergaul dgn orang2 yg memiliki sifat malu dan baik sehingga dia memperoleh sifat itu dari mereka. Malu yg bersifat pembawaan itu lbh utama daripada yg kedua ini. Al-Hafizh rahimahullahu menukilkan dari Ar-Raghib bahwa malu adl menahan diri dari perbuatan jelek. Dan ini merupakan kekhususan yg dimiliki manusia agar dia dapat berhenti dari berbuat apa saja yg dia inginkan sehingga dia tdk akan seperti hewan. Sifat malu ini mendapatkan pujian dlm syariat Islam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian dlm sabda yg disampaikan oleh ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu: الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ “Malu itu tidaklah datang kecuali dgn membawa kebaikan.” Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang sahabat yg mencela teman krn rasa malu yg dimilikinya. Dikisahkan oleh Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma: مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَهُوَ يُعَاتِبُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ يَقُوْلُ: إِنَّكَ لَتَسْتَحْيِي – حَتَّى يَقُوْلَ: قَدْ أَضَرَّ بِكَ – فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهُ، فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ اْلإِيْمَانِ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai seseorang yg sedang mencela saudara krn malu. Dia mengatakan “Kamu ini merasa malu” sampai dia katakan “Rasa malu itu telah memudaratkanmu!” mk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata “Biarkan dia krn malu itu termasuk keimanan.” Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah pula mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ “Iman itu ada tujuh puluh sekian1 cabang. Cabang yg paling utama adl ucapan ‘tak ada sesembahan yg haq kecuali Allah’ yg paling rendah menghilangkan gangguan dari jalan dan malu itu salah satu cabang keimanan.” Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu dan ulama yg lain menjelaskan “Sesungguh malu termasuk keimanan walaupun malu itu berupa sifat pembawaan. Karena malu itu terkadang merupakan akhlak yg disandang atau hasil usaha seseorang seperti hal amalan kebaikan lain dan terkadang pula merupakan sifat pembawaan. Namun pelaksanaan di atas aturan syariat membutuhkan upaya niat dan ilmu. Dengan ini malu termasuk keimanan. Juga krn malu dapat mendorong seseorang utk melakukan kebaikan dan mencegah dari kemaksiatan.” Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan: إِنَّ الْحَيَاءَ وَاْلإِيْمَانَ قُرِنَا جَمِيْعًا، فَإِنْ رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلآخَرُ “Malu dan iman itu senantiasa ada bersama-sama. Bila hilang salah satu dari kedua hilang pula yg lainnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adl seorang yg memiliki sifat sangat pemalu. Digambarkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu sifat malu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ العَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا، فَإِذَا رَأَى شَيْئًا يَكْرَهُهُ عَرَفْنَاهُ فِي وَجْهِهِ “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lbh pemalu daripada seorang gadis dlm pingitannya. Bila beliau tdk menyukai sesuatu kami bisa mengetahui pada wajah beliau.” ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu adl seorang sahabat yg terkenal memiliki sifat pemalu hingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun malu kepadanya. Dikisahkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأْذَنَ أَبُوْ بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ، فَتَحَدَّثَ. ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ فَأَذِنَ لَهُ وَهُوَ كَذَلِكَ، فَتَحَدَّثَ. ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَوَّى ثِيَابَهُ – قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلاَ أَقُوْلُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ – فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ. فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُوْ بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ! فَقَالَ: أَلاَ أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلاَئِكَةُ؟ “Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbaring di rumahku dlm keadaan tersingkap dua paha atau dua betis beliau. Kemudian Abu Bakr meminta izin menemui beliau. Beliau mengizinkan masuk sementara beliau masih dlm keadaannya. Lalu Abu Bakr bercakap-cakap dgn beliau. Kemudian ‘Umar datang meminta izin utk masuk. Beliau mengizinkan masuk sementara beliau tetap demikian keadaannya. Mereka pun berbincang-bincang. Kemudian ‘Utsman datang minta izin utk menemui beliau. Beliau pun langsung duduk dan membenahi pakaian –Muhammad2 berkata: Aku tdk mengatakan bahwa hal ini terjadi dlm satu hari– ‘Utsman pun masuk dan berbincang-bincang. Ketika ‘Utsman pulang Aisyah berta “Abu Bakr masuk menemuimu namun engkau tdk bersiap menyambut dan tdk memedulikannya. Begitu pula ‘Umar masuk menemuimu engkau juga tdk bersiap menyambut dan tdk memedulikan pula. Kemudian ketika ‘Utsman masuk engkau segera duduk dan membenahi pakaianmu!” Rasulullah menjawab “Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yg malaikat pun merasa malu kepadanya?” dlm riwayat yg lain dari ‘Aisyah dan ‘Utsman radhiyallahu ‘anhuma Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: إِنَّ عُثْمَانَ رَجُلٌ حَيِيٌّ، وَإِنِّي خَشِيْتُ إِنْ أَذِنْتُ لَهُ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ أَنْ لاَ يَبْلُغَ إِلَيَّ فِي حَاجَتِهِ “Sesungguh ‘Utsman itu orang yg pemalu. Aku khawatir jika aku mengizinkan dia masuk dlm keadaan seperti tadi dia tdk akan bisa menyampaikan keperluan kepadaku.” Ini menunjukkan bahwa malu adl sifat yg terpuji dan termasuk sifat yg dimiliki oleh para malaikat. Tetapi ke mana pergi rasa malu yg dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya itu dari jiwa sebagian kaum muslimin sekarang ini? Anak-anak kita tdk lagi merasa malu menonton tayangan yg tdk layak dilihat
Anak-anak gadis kita sekarang tdk lagi merasa malu bertemu dgn laki2 yg tdk seharus ditemui
Begitu pula anak laki2 kita tdk merasa malu pergi bermain dgn memakai celana pendek. Dia justru merasa malu bila harus berlatih memakai celana yg menutupi aurat krn akan berbeda dgn teman-teman sepermainannya
Anak-anak merasa malu jika tdk mengenal mode atau tren terkini
Atau justru orangtualah yg merasa malu jika anak-anak harus menghabiskan waktu utk menghafal Al-Qur’an atau menempuh pendidikan agama. Tidak ada sederet gelar yg akan melekat di depan nama bila hanya belajar agama begitu yg ada dlm pikiran
Mereka pun akan malu jika anak mereka ‘kuper’ krn tdk mau bergaul dgn lawan jenisnya. Allahul musta’an . Keadaan telah berbalik
Malu merupakan sifat yg terpuji kecuali bila justru mencegah pemilik dari melaksanakan kewajiban atau menjatuhkan pada keharaman. Jika rasa malu pada diri seseorang menghalangi melakukan kebaikan atau mendorong berbuat kemaksiatan atau menghalangi utk menyampaikan kebenaran kepada seseorang yg dia hormati atau dia cintai mk pada hakikat ini bukanlah malu melainkan sikap lemah
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu ketika menjelaskan hadits ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu tentang malu mengatakan bahwa malu yg dipuji dlm ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl akhlak yg bisa mendorong seseorang melakukan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Sedangkan rasa lemah yg menyebabkan seseorang mengurangi hak Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun hak hamba-Nya bukan termasuk malu. Tetapi ini adl kelemahan ketidakmampuan dan kehinaan. Di antara perkara yg tdk pantas malu pada adl menuntut ilmu. Demikian yg ada dlm kehidupan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Jadi belajar agama yg benar tdk boleh dipandang sebagai sesuatu yg ‘tak bergengsi’ sehingga orang harus malu melakukannya
Tidak layak pula malu berta tentang sesuatu hal yg penting utk diamalkan dlm agama ini walaupun nampak hal itu adl sesuatu yg ‘tabu’. Seperti Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha yg berta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi janabah bagi wanita yg ihtilam. Ummu Sulaim memulai pertanyaan dgn ucapan yg begitu bermakna: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحِي مِنَ الْحَقِّ .
“Wahai Rasulullah sesungguh Allah tidaklah malu pada perkara yg benar” Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah merasa malu dlm suatu majelis ilmu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melontarkan pertanyaan kepada para sahabat yg ada di majelis itu. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma ingin memberikan jawaban namun rasa malu begitu menguasainya. Ketika mengetahui hal itu ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu pun mencela perbuatan putranya. Berikut kisahnya: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ شَجَرَةٍ خَضْرَاءَ لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَلاَ يَتَحَاتُّ. فَقَالَ الْقَوْمُ: هِيَ شَجَرَةُ كَذَا، هِيَ شَجَرَةُ كَذَا، فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُوْلَ هِيَ النَّخْلَةُ وَأَنَا غُلاَمٌ شَابٌّ فَاسْتَحْيَيْتُ، فَقَالَ: هِيَ النَّخْلَةُ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti sebuah pohon yg hijau yg tdk pernah berguguran daunnya.” Para sahabat pun menjawab “Itu adl pohon ini pohon itu.” Aku ingin mengatakan bahwa itu adl pohon kurma sementara aku ini anak kecil sehingga aku pun merasa malu. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Itu pohon kurma.” Di dlm riwayat yg lain ada tambahan: فَحَدَّثْتُ بِهِ عُمَرَ فَقَالَ: لَوْ كُنْتَ قُلْتَهَا لَكَانَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ كَذَا وَكَذَا Kuceritakan kejadian itu kepada ayahku ‘Umar mk dia berkata “Seandai engkau tadi menjawab itu lbh kusukai daripada memiliki ini dan itu.” Betapa jauh keadaan kita dgn para sahabat. Mereka berhias dgn rasa malu yg hakiki yg dapat menahan diri mereka dari kehinaan. Mereka buang jauh-jauh sifat lemah yg menyebabkan seseorang segan melakukan kebaikan. Mulai sekarang mesti kita berbenah diri dan membenahi anak-anak kita agar memiliki rasa malu
Rasa malu itu akan menuntun kita dan anak-anak kita menuju kebaikan sehingga kelak akan sampai di surga. Benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg dinukilkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: الْحَيَاءُ مِنَ اْلإِيْمَانِ وَاْلإِيْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالجَفَاءُ فِي النَّارِ “Malu itu termasuk keimanan dan keimanan itu tempat di surga sementara kekejian3 itu termasuk kekerasan4 dan kekerasan itu tempat di neraka.” Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab
1 Al-bidh’u adl hitungan antara tiga sampai sembilan
2 Salah seorang perawi hadits ini
3 Al-badza` adl lawan dari malu yg muncul dari perkataan keji dan akhlak yg buruk
4 Al-jafa` adl lawan dari kebaikan. Pelaku adl orang2 yg tdk menunaikan hak bertabiat kasar dan berhati keras
Sumber: www.asysyariah.com
penulis Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran
Malu menurut Al-Qur'an dan Sunah
“Malu Menurut al-Quran dan as-Sunnah”
Menurut bahasa berarti perubahan, kehancuran perasaan atau duka cita yang terjadi pada jiwa manusia karena takut di cela. Adapun asal kata al-hayaa u (malu) berasal dari kata al-hayaatu (hidup), juga berasal dari kata al-hayaa (air hujan).
Sedangkan menurut istilah adalah akhlaq yang sesuai dengan sunnah yang membangkitkan fikiran untuk meninggalkan perkara yang buruk sehingga akan menjauhkan manusia dari kemaksiatan dan menghilangkan kemalasan untuk menjalankan hak Allah.
Makna tersebut dijelaskan dalam hadits Nabi shollallahu’alaihi wassallam, “Sesungguhnya termasuk yang didapati manusia dari perkataan para nabi terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu maka lakukanlah sekehendakmu’”
Malu adalah Ciri Khas Keutamaan Manusia
Ketahuilah, Allah memberikan sifat malu agar manusia menahan diri dari keinginan-keinginannya sehingga tidak berprilaku seperti binatang. Ingatlah ketika Adam dan Hawa memakan buah yang terlarang lalu nampaklah aurat keduanya.
“Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku Telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Qs. Al-A’raaf : 22)
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa secara fitrah manusia merasa malu jika tidak berpakaian. Dan tidaklah manusia itu memamerkan auratnya tanpa pakaian kecuali fitrahnya telah rusak. Sedangkan rusaknya fitrah adalah akibat gangguan iblis dan tentaranya.
Adapun orang yang berupaya menelanjangi badan dari pakaian, melucuti jiwa dari pakaian ketakwaan dan menghilangkan sifat malu kepada Allah dan manusia, mereka itulah yang menginginkan manusia lepas dari fitrahnya dan sifat-sifat kemanusiaannya. Padahal dengan fitrah dan sifat kemusiaannya itulah ia di sebut sebagai manusia.
Sesungguhnya telanjang adalah sifat asli dari hewan, manusia tidak punya kecenderungan kepadanya, jika sampai ada tentulah akan terjerumus dalam Lumpur kehewanan.
Anehnya, para pembantu syaitan yang hidup di tengah-tengah kaum muslimin memberikan nama-nama kepada para muslimah di rumah, di jalan, di sekolah atau di mana saja yang mengenakan jilbab, kerudung atau baju yang tebal, julukan yang menyakitkan (fanatik, ortodok dan lainnya). Padahal wanita muslimah tidak mengenakannya kecuali untuk menjaga kemuliaannya, menjaga auratnya dan agar tumbuh darinya seluruh fitrah islami yang murni, serta agar jelas perbedaan dirinya dengan mereka yang telanjang seperti hewan.
Perhatikanlah, dampak yang di timbulkan dari tempat-tempat mode, para desainer pakaian, salon-salon rias dan guru-gurunya terhadap kaum muslimah jaman sekarang, mereka melancarkan tipu daya dengan berbagai corak dan rupa, sebagaiman firman Allah Ta’ala,
“… dan akan aku (syaitan) suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya…” (Qs. An-Nisa’ : 119)
Ajakan tipu daya tersebut dituruti saja oleh para wanita yang terbiasa berbusana ‘telanjang’. Ketaatan seperti itu menghinakan pelakunya dan sekaligus membuat orang tertawa dan menangis. Merekalah wanita-wanita yang terbius, terbujuk, terpedaya oleh tipu daya syaitan berwujud manusia. Bahkan bisa jadi hewan yang hina sekalipun ikut menjelek-jelekan perilaku mereka yang mengikuti tren.
Mereka tidak menyadari bahwa mereka hanyalah digunakan sebagai propaganda obyek bisnis, apabila sudah tidak berguna lagi maka dicampakkan.
Disisi lain mereka juga dijadikan sarana pemuas syahwat terlarang yang merusak keluarga. Tampil dalam lembaran-lembaran majalah, filem-filem, kisah-kisah dan berita-berita dalam surat kabar. Seolah-olah majalah, surat kabar atau yang lainnya dikemas sebagai tempat pelacuran yang berpindah-pindah.
Jika ada wanita yang ingin menjaga kehormatannya, mereka tatap dengan pandangan penuh kebencian bagaikan penglihatan orang yang pingsan karena takut mati.
Wahai Saudariku janganlah engkau menjadi penolong syaitan yang celaka dan berpegang teguhlah pada Agama Allah dan kekuasaan-Nya.
Maqaami’usy Syaithaan (hal 25-26) oleh Salim bin ‘Ied al-Hilali,
Jenis-Jenis Malu
Terdapat banyak jenis-jenis malu, diantaranya :
Malu kepada Allah,
Ketahuilah sesungguhnya celaan Allah itu diatas seluruh celaan. Dan pujian Allah subhanahu wata’ala itu diatas segala pujian. Orang yang tercela adalah orang yang dicela oleh Allah. Orang-orang yang terpuji adalah orang-orang yang dipuji oleh Allah. Maka haruslah lebih malu kepada Allah dari pada yang lain.
Malu kepada Allah adalah jalan untuk menegakkan segala bentuk Ketaatan dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Karena jika seorang hamba takut di cela Allah, tentunya ia tidak akan menolak ketaatan dan tidak pula mendekati kemaksiatan. Oleh karena itulah malu merupakan sebagian dari iman.
Nabi shollallahu’alaihi wassallam bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallah (tiada illah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu termasuk salah satu cabang iman.”
Malu kepada Manusia,
Termasuk jenis malu adalah malunya sebagian manusia kepda sebagian yang lain. Sebagaimana malunya seorang anak kepada orangtuanya, isteri kepada suaminya, orang bodoh kepada orang pandai, serta malunya seorang gadis untuk terang-terangan menyatakan ingin menikah.
“Dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, bahwasannya ia berkata, ‘wahai Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam, sesungguhnya gadis itu malu. Maka Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, ‘Persetujuannya diketahui dari diamnya’”.
Malunya seseorang terhadap dirinya,
Dan ini salah satu bentuk malu yang di rasakan oleh jiwa yang terhormat, tinggi dan mulia, sehingga ia tidak puas dengan kekurangan , kerendahan dan kehinaan. Karena itu engkau akan menjumpai seseorang yang merasa malu kepada dirinya sendiri, seolah-olah di dalam raganya terdapat dua jiwa, yang satu merasa malu kepada yang lain.
Malu inilah yang paling sempurna karena jika pada dirinya sendiri saja sudah demikian malu, apalagi terhadap orang lain.
Keutamaan-Keutamaan Sifat Malu
Allah mencintai sifat malu,
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemalu dan Maha Menutupi. Dia mencintai rasa malu dan ketertutupan.”
Malu adalah akhlaq Islam,
“Sesungguhnya setiap agama itu berakhlaq, Sedangkan akhlaq agama islam adalah malu.”
Termasuk bagian dari iman,
Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu, bahwasannya Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam melewati seorang laki-laki dari sahabat Anshar sedang menasehati temannya tetang rasa malu. Lalu Rasulullah Shollallahu’alaihi Wa Sallam bersabda, “Biarkan ia, sesungguhnya malu merupakan bagian dari iman”
Sifat malu mendatangkan kebaikan,
“Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”
Sifat malu menghantarkan ke surga
“Malu itu bagian dari iman. Dan iman tempatnya di surga, sedangkan ucapan keji termasuk bagian dari tabiat kasar, tabiat kasar itu tempatnya di neraka.”
HR Bukhari (Fathul Baari I/51), HR Muslim (Syahr An-Nawawi I/6), lafadz di atas milik Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu.
Hadits Shahih riwayat Abu Dawud (4012), an-Nasa-I (I/200), Ahmad (IV/224) dari Ya’la bin Umayyah radhiallahu’anhu.
Hadits Hasan riwayat Ibnu Majah (4181), al-Khara-ithi dalam Makaarimul Akhlaaq (49), ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghiir (I/13-14) hadits dari Anas.
HR. Bukhari (Fathul Baari X/521), Muslim Syahr an-Nawawi II/6-7)
HR. Bukhari (Fathul Baari I/74)
Hadits Shahih riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Hibban 1929, al-Hakim I/52, Ahmad II/501 dari banyak jalan.
Perkara-Perkara yang Dapat Meningkatkan Rasa Malu
Muraqabatullaah (merasa terus diawasi Allah),
Kapan saja seorang hamba itu merasa Allah sedang melihat kepadanya dan berada dekat dengannya, ia akan mendapatkan ilmu ini (muraqabatullaah) karena rasa malunya kepada Allah.
Mensyukuri nikmat Allah,
Sifat malu akan muncul dengan memikirkan nikmat Allah yang tidak terbatas, pada hakikatnya orang yang berakal akan merasa malu untuk menggunakan nikmat Allah untuk berbuat maksiat kepadanya.
Perkara-Perkara yang Tidak Termasuk Malu
Tidak berkata atau tidak terang-terangan dalam kebenaran,
Allah berfirman, “… dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar …” (Qs. Al-Ahzaab : 53)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Baari (I/52) berkata, “Tidak boleh dikatakan bahwa, bisa jadi malu itu menjadi penghalang untuk berkata yang benar, atau mengerjakan kebaikan karena malu yang seperti itu bukan malu yang syar’I (sesuai syariat)”
Imam an-Nawawi rahimahullah, dalam Syahr Shahih Muslim (II/5), “Terjadi masalah pada sebagian orang yaitu orang yang pemalu kadang-kadang merasa malu untuk memberitahukan kebaikan kepada orang yang ia hormati. Akhirnya ia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Terkadang sifat malunya membuat ia melalaikan sebagian apa yang menjadi haknya dan hal-hal lain yang biasa terjadi dalam kebiasaan sehari-hari.”
Malu dalam mencari ilmu’
‘Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah para wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka mendalami ilmu agama”
Imam Mujahid rahimahullah berkata, “Tidak akan bisa mencari ilmu (dengan benar) orang yang malu mencarinya dan orang-orang yang sombong.”
Fathul Baari (I/228), Syarah Shahih Muslim li Imam an-Nawawi (IV/15-16)
Fathul Baari (I/228)
Wallahu’alam bishowab
